Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni menegaskan dirinya membuka ruang komunikasi seluas-luasnya dengan insan pers, termasuk menerima kritik terhadap kinerja kepolisian.
Hal tersebut disampaikan Ruslaeni saat menggelar Coffee Morning bersama wartawan di Ruang Endra Dharmalaksana Polres Nunukan, Senin (24/08/2026).
Pertemuan perdana tersebut dimanfaatkan Ruslaeni untuk memperkenalkan diri sekaligus membangun kedekatan dengan para jurnalis yang selama ini menjadi salah satu jalur penyampaian informasi kepolisian kepada masyarakat.
Kegiatan itu turut dihadiri Wakapolres Nunukan AKP Iberahim Eka Berlin, Kasat Reskrim AKP Wisnu Bramantio, Kasat Resnarkoba AKP Supriyadi, Kasat Intelkam Iptu Prabowo Eka Prasetyo dan Kasi Humas Polres Nunukan Ipda Idris.
Ruslaeni mengatakan, hubungan antara kepolisian dan media perlu dibangun melalui komunikasi yang terbuka. Menurutnya, wartawan tidak harus menunggu adanya kasus untuk berkomunikasi dengan kepolisian.
Ia juga mempersilakan media menyampaikan pertanyaan, kritik maupun masukan apabila menemukan persoalan yang berkaitan dengan pelayanan atau tugas kepolisian.
“Kalau ada yang ingin ditanyakan atau disampaikan, silakan. Kami terbuka,” kata Ruslaeni kepada MataKaltara.com, Senin (24/08/2026).
Kapolres yang merupakan lulusan Akpol 2007 tersebut menilai keberadaan media sangat strategis dalam membantu menyampaikan informasi kepada masyarakat.Namun, ia mengingatkan bahwa kecepatan pemberitaan perlu berjalan beriringan dengan ketepatan informasi.
Ruslaeni secara khusus menyoroti fenomena informasi yang diterima masyarakat secara tidak utuh.
Menurutnya, satu informasi yang dipotong dari konteks keseluruhan dapat memunculkan pemahaman berbeda, terlebih jika menyangkut persoalan hukum dan keamanan.
Ia menjelaskan, masyarakat memiliki latar belakang dan tingkat pemahaman yang beragam. Kondisi tersebut membuat bahasa komunikasi menjadi bagian penting dalam penyampaian informasi publik.
“Tidak semua masyarakat memahami komunikasi dengan cara yang sama. Tingkat pemahamannya berbeda-beda. Informasi sepotong bisa picu salah tafsir di masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, ia mengharapkan informasi mengenai suatu persoalan dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana, jelas dan tidak menimbulkan tafsir liar.
Ruslaeni juga mengajak wartawan untuk melakukan konfirmasi ketika menemukan bagian informasi yang belum jelas.Baginya, konfirmasi bukan hanya untuk kepentingan pemberitaan, tetapi juga menjadi langkah untuk mencegah informasi yang keliru berkembang lebih jauh.
“Kalau ada sesuatu yang perlu dikomunikasikan, mari kita diskusikan,” ucapnya.
Ia menilai komunikasi langsung antara wartawan dan kepolisian dapat memperkecil kemungkinan munculnya kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Terlebih, sejumlah persoalan yang ditangani kepolisian kerap memiliki proses dan konteks yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui satu potongan informasi.
Dalam kesempatan tersebut, Ruslaeni kembali menegaskan bahwa dirinya tidak menutup diri terhadap kritik media.Menurutnya, kritik yang disampaikan secara konstruktif justru dapat menjadi bahan evaluasi bagi institusi kepolisian untuk meningkatkan pelayanan.
Ia berharap hubungan Polres Nunukan dengan insan pers ke depan tidak hanya bersifat formal, tetapi berkembang menjadi komunikasi yang aktif dan saling terbuka.
“Media adalah mitra strategis untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Mari kita bersama-sama menjaga agar informasi yang sampai ke masyarakat benar dan bisa dipahami,” pungkasnya.
Coffee Morning tersebut ditutup dengan diskusi antara jajaran Polres Nunukan dan wartawan terkait berbagai persoalan yang berkembang di wilayah hukum Polres Nunukan.
Ruslaeni berharap komunikasi yang telah dibangun sejak pertemuan tersebut dapat terus dipelihara sehingga kepolisian dan media dapat menjalankan perannya masing-masing secara profesional.












