Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Studi tiru Yayasan Ibnu Sina Nunukan ke Buahati Islamic School Jakarta tidak berhenti pada catatan dan kekaguman terhadap sistem pendidikan yang diterapkan sekolah tersebut. Hasil kunjungan itu mulai dibedah untuk diterjemahkan menjadi program nyata di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Ibnu Sina Nunukan.
Pengurus yayasan, kepala sekolah dan guru menggelar rapat kerja pada Senin (17/08/2026) untuk menentukan langkah pembenahan yang dapat diterapkan di lingkungan Ibnu Sina.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Ibnu Sina, Muhammad Nasir, menegaskan studi tiru hanya akan memiliki arti jika mampu melahirkan perubahan.
“Jangan berhenti pada kekaguman terhadap sekolah yang kita kunjungi. Kita harus bertanya, apa yang bisa kita ubah dan tingkatkan di Ibnu Sina setelah pulang? Studi tiru harus berujung pada perbaikan sistem, SDM, pembinaan siswa dan pelayanan pendidikan,” kata Nasir kepada MataKaltara.com, Selasa (18/07/2026).
Menurutnya, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan program yang bagus. Sistem yang kuat, sumber daya manusia yang berkualitas dan evaluasi yang terukur menjadi bagian penting untuk memastikan setiap program berjalan konsisten.
Karena itu, hasil studi ke Buahati Islamic School dibahas dari berbagai sisi, mulai dari pengelolaan sekolah, pembinaan guru, karakter dan kedisiplinan siswa, inovasi pembelajaran hingga pengembangan kemampuan bahasa Inggris sejak jenjang TKIT sampai SMAIT.
Rapat tersebut dihadiri Ketua Dewan Pembina Muhammad Nasir, anggota Dewan Pembina Eko Sugiharto, Ketua Yayasan Oji Raharjo, Bendahara M. Rusdi, Kepala Bidang Pembinaan SDM Baharullah, anggota Bidang Pembinaan SDM Ima Yuli Astanti, pengurus yayasan, kepala sekolah serta perwakilan guru.
Ketua Yayasan Ibnu Sina Oji Raharjo, memimpin pembahasan dengan membuka ruang bagi setiap jenjang untuk memaparkan hasil studi tiru sekaligus menyampaikan gagasan yang dinilai relevan diterapkan di Ibnu Sina.
Kepala SMAIT Ariffudin, Kepala SMPIT Ibnu Sina Syafaruddin, Kepala SDIT Hasmawati, Kepala TKIT Suriyani, bersama jajaran guru menyampaikan sejumlah masukan berdasarkan apa yang mereka pelajari selama kunjungan.
Salah satu perhatian utama adalah bagaimana membangun sistem evaluasi yang lebih terukur. Dari studi tiru tersebut, Ibnu Sina mempelajari sekitar 16 jenis rapor atau instrumen penilaian, termasuk konsep rapor bagi guru.
Instrumen tersebut dinilai dapat digunakan untuk melihat kinerja guru secara lebih objektif, mulai dari kedisiplinan, profesionalisme, kompetensi, kualitas pembelajaran hingga kontribusi terhadap lembaga.
Nasir menilai evaluasi tersebut bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan lembaga memiliki standar yang jelas.
“Evaluasi bukan untuk mencari kesalahan. Tetapi lembaga membutuhkan standar. Guru yang berkinerja baik harus mendapat apresiasi, sementara yang masih kurang harus mendapatkan pembinaan dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, sistem evaluasi itu juga diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan arah pembinaan, penghargaan hingga pengembangan kesejahteraan SDM berdasarkan kinerja.
“Dari evaluasi kita bisa melihat perkembangan seorang guru. Apakah masih perlu diperkuat, diberikan pendampingan atau sudah mampu menjadi bagian dari penggerak perubahan di lembaga,” ucapnya.
Selain pembenahan internal, pengembangan sumber daya manusia menjadi agenda penting. Kepala Bidang Pembinaan SDM Baharullah menekankan bahwa peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas guru.
Hal senada disampaikan Ima Yuli Astanti, Menurutnya, guru harus memiliki ruang untuk terus belajar dan memperbaiki kompetensi.
“Kualitas murid sangat berkaitan dengan kualitas orang-orang yang mendidiknya. Karena itu guru harus diberikan ruang untuk belajar, meningkatkan kompetensi, melakukan evaluasi dan memperbaiki diri secara terus-menerus,” jelasnya.
Dari sisi kelembagaan, Bendahara Yayasan Ibnu Sina M. Rusdi mendorong penguatan bina usaha dan fundraising. Menurutnya, yayasan membutuhkan sumber pendanaan yang lebih beragam agar pengembangan sekolah tidak hanya bergantung pada dana pendidikan.
“Kita perlu membangun sumber pendapatan yayasan di luar dana sekolah. Bina usaha dan fundraising harus dikembangkan secara profesional agar yayasan semakin mandiri,” imbuhnya.
Sementara itu, Syafaruddin, menilai transformasi pendidikan juga harus dibarengi dengan kejelasan identitas dan keunggulan SIT Ibnu Sina.
“Kita harus menjawab apa yang menjadi pembeda Ibnu Sina. Kita ingin mempunyai lulusan yang kuat keislamannya, karakternya, akademiknya dan mempunyai kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan,” ungkapnya.
Hasil rapat kemudian diarahkan pada pemetaan prioritas. Sejumlah gagasan yang dinilai siap diterapkan akan segera ditindaklanjuti, sementara program yang membutuhkan persiapan lebih panjang akan disusun melalui tahapan dan koordinasi antar jenjang.
Pembahasan berlangsung dinamis hingga malam hari. Pengurus yayasan, kepala sekolah dan guru tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga memberikan kritik terhadap berbagai aspek yang dinilai masih perlu diperbaiki.Rapat akhirnya ditutup sekitar pukul 22.30 WITA.
Nasir menegaskan, transformasi tidak boleh berhenti sebagai wacana. Menurutnya, Ibnu Sina harus mampu mengubah hasil studi tiru menjadi langkah konkret yang kemudian berkembang menjadi sistem dan budaya kerja.
“Lebih baik kita memilih beberapa perubahan dan benar-benar mengerjakannya daripada memiliki banyak gagasan yang berhenti di ruang rapat. Kita ingin hasil studi tiru ini berubah menjadi program, kemudian sistem, dan akhirnya menjadi budaya mutu Ibnu Sina,” pungkasnya.












