Pemkab Nunukan

Wabup Nunukan Hermanus: Jika Konektivitas Diperkuat, Ekonomi Perbatasan Indonesia-Malaysia Bisa Tumbuh

×

Wabup Nunukan Hermanus: Jika Konektivitas Diperkuat, Ekonomi Perbatasan Indonesia-Malaysia Bisa Tumbuh

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Malam di Desa Mansalong, Kecamatan Lumbis Raya, Rabu (19/08/2026), menjadi ruang perjumpaan dua masyarakat yang dipisahkan oleh batas negara, namun tetap dipersatukan oleh hubungan darah, budaya dan sejarah.

Pemerintah Kabupaten Nunukan bersama masyarakat Lumbis Raya menyambut kedatangan rombongan dari Nabawan, Sabah, Malaysia, dalam sebuah malam ramah tamah atau ramah mesra yang berlangsung di Lapangan Bola Aji Kuning.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Senyum, sapaan dan keakraban mewarnai pertemuan masyarakat rumpun Murut dari Nunukan dan Nabawan.

Bagi Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, pertemuan itu bukan sekadar agenda silaturahmi. Lebih dari itu, menjadi pengingat bahwa hubungan masyarakat di kawasan perbatasan telah jauh lebih dahulu terjalin sebelum batas administrasi kedua negara terbentuk.

“Hubungan masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia dan Malaysia sesungguhnya telah terjalin sejak dahulu. Hubungan kekeluargaan, kebudayaan dan sosial menjadi modal yang sangat kuat dalam mempererat persaudaraan kedua negara,” kata Hermanus kepada MataKaltara.com, Kamis (20/08/2026).

Ia menilai kekuatan hubungan sosial dan budaya tersebut harus menjadi fondasi dalam membangun kerja sama yang lebih luas.Menurutnya, masyarakat perbatasan tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan.

Mereka harus menjadi bagian penting dari proses pengembangan kawasan perbatasan, termasuk dalam sektor ekonomi.

Hermanus berharap hubungan Nunukan dan Nabawan tidak berhenti pada kegiatan budaya dan silaturahmi, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Hubungan baik tersebut perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan, tidak hanya dalam bidang sosial dan budaya, tetapi juga ekonomi,” ujarnya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kelancaran mobilitas masyarakat di kawasan perbatasan.

Hermanus berharap keberadaan PLBN Labang dapat semakin memperkuat konektivitas masyarakat Nunukan dengan Nabawan, sekaligus memberikan pelayanan lintas batas yang lebih baik.

“Kita berharap adanya peningkatan status dan pelayanan pemeriksaan lintas batas, sehingga masyarakat yang melintas dapat memperoleh pelayanan yang semakin baik, tertib, aman, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.

Selain itu, pembangunan infrastruktur jalan dinilai memiliki peran strategis dalam membuka keterisolasian sejumlah wilayah.

Jalur Mansalong–Labang–Lumbis Hulu, kata Hermanus, perlu terus mendapat perhatian karena konektivitas jalan menjadi salah satu kunci dalam memperlancar pergerakan masyarakat dan barang.

Ia juga berharap peningkatan akses jalan di wilayah Nabawan dapat berjalan seiring sehingga konektivitas kedua kawasan semakin kuat.

“Apabila pemerintah Indonesia dan Malaysia terus membangun komunikasi dan kerja sama yang baik, maka kawasan perbatasan dapat menjadi kawasan yang semakin maju, aman, dan sejahtera,” tuturnya.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan cara pandang Pemerintah Kabupaten Nunukan terhadap kawasan perbatasan.

Batas negara tidak seharusnya hanya dilihat sebagai garis pemisah, tetapi juga sebagai ruang bertemunya kepentingan masyarakat kedua negara.

“Perbatasan harus menjadi jembatan persaudaraan, kerja sama, dan kesejahteraan bagi masyarakat kedua negara,” imbuhnya.

Sementara itu, Pejabat Daerah Nabawan, Sabah, Malaysia, Tuan Ts. Marshal Bin Anthony, mengaku terkesan dengan sambutan masyarakat Lumbis Raya.Ia mengatakan kedatangan rombongan Nabawan terasa seperti pulang ke kampung halaman.

“Kami datang sebagai tamu, tetapi sambutan dan keramahan yang diberikan membuat kami merasa seperti sedang bertemu kembali dengan keluarga sendiri,” ucapnya.

Marshal menjelaskan, masyarakat Murut di Indonesia dan Sabah memiliki hubungan leluhur yang kuat. Kesamaan adat, budaya dan tradisi menjadi pengikat yang membuat hubungan kedua masyarakat tetap terjaga meskipun berada di dua negara berbeda. Karena itu, ia berharap pertemuan seperti malam ramah mesra tersebut dapat terus dilaksanakan.

Menurutnya, generasi muda perlu mengenal dan memahami sejarah serta akar budaya mereka agar hubungan persaudaraan yang telah diwariskan para leluhur tidak terputus.

“Semoga hubungan kekeluargaan dan persaudaraan antara masyarakat Murut terus hidup, semakin erat, dan terus diwariskan kepada generasi yang akan datang,” ungkapnya.

Ia menutup pesannya dengan sebuah kalimat yang menggambarkan suasana pertemuan malam itu.

“Kita datang sebagai keluarga, kita bertemu sebagai keluarga, dan kita pun berpisah sebagai keluarga.” pungkasnya.

Pertemuan masyarakat Murut Nunukan dan Nabawan pun menjadi gambaran bahwa di kawasan perbatasan, ada persaudaraan yang tidak mengenal sekat administratif.

Batas negara tetap dijaga sebagai bagian dari kedaulatan masing-masing negara, namun hubungan kemanusiaan, budaya dan kekeluargaan tetap dapat dirawat sebagai jembatan menuju kawasan perbatasan yang lebih maju dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page