Nunukan

Gua Adat Rusak dan Walet Hilang, Masyarakat Adat Ngadu ke DPRD Nunukan

×

Gua Adat Rusak dan Walet Hilang, Masyarakat Adat Ngadu ke DPRD Nunukan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Perwakilan masyarakat adat Dayak Tenggalan dari wilayah pedalaman Sebuku mendatangi Gedung DPRD Nunukan untuk menyampaikan keluhan terkait hilangnya sumber penghidupan mereka dari sarang burung walet di gua adat, Rabu (13/05/2026).

Kedatangan warga ini dipicu kekhawatiran karena sejumlah gua yang selama puluhan tahun menjadi tempat bersarang walet kini tidak lagi produktif.

Mereka menilai perubahan kondisi lingkungan di sekitar gua terjadi setelah aktivitas perkebunan kelapa sawit berkembang di kawasan tersebut.

Kuasa hukum masyarakat adat, Theodorus, menjelaskan bahwa masyarakat sejak lama menggantungkan ekonomi keluarga dari panen sarang walet yang dilakukan beberapa kali dalam setahun.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, hasil tersebut hilang sepenuhnya.

Menurutnya, persoalan ini berawal dari kesepakatan lama antara masyarakat dengan pihak perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.

Dalam kesepakatan itu, perusahaan disebut berkomitmen menjaga area sekitar gua adat dan memberikan lahan plasma bagi warga.

“Faktanya, masyarakat melihat adanya aktivitas penanaman yang mendekati kawasan gua dan berdampak pada rusaknya aliran sungai serta lingkungan sekitar,” kata Theodorus kepada MataKaltara.com, Kamis (14/05/2026).

Akibat kondisi tersebut, masyarakat mengaku kehilangan sumber penghasilan utama sekaligus area adat yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan mereka.

Selain menuntut ganti rugi, warga juga berharap adanya perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat.

Sejumlah anggota DPRD Nunukan yang hadir dalam pertemuan tersebut menilai persoalan ini perlu penanganan serius karena menyangkut keberlanjutan hidup masyarakat serta penghormatan terhadap wilayah adat.

DPRD menegaskan akan menindaklanjuti aduan masyarakat melalui langkah-langkah kelembagaan, termasuk komunikasi dengan pihak terkait agar konflik tidak berlarut-larut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page