Toleransi Siswa – Siswi Kristen SMA Katolik Frateran Santo Gabriel Gelar Natal Bersama

oleh
Oplus_131072

Penulis: Arfan | Editor: Fidelis

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN — Siswa-siswi Kristen SMA Katolik Frateran Santo Gabriel Nunukan melaksanakan ibadah Natal bersama di Gereja GBT Sola Gratia, Jalan Agus Salim RT 6, pada Sabtu (13/12/2025).

Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan sukacita sebagai wujud kebersamaan serta penguatan iman para siswa dan Siswi Kristen.

Ibadah Natal bersama tersebut dipimpin oleh Pdt. Albert Rasa, yang dalam khotbahnya mengajak para siswa untuk memaknai kelahiran Yesus Kristus sebagai sumber kasih, damai, dan pengharapan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan sekolah yang majemuk.

Kepala Sekolah SMA Katolik Frateran Santo Gabriel Nunukan, Yohanes Mau, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pihak sekolah memberikan ruang dan kesempatan bagi para guru dan siswa-siswi, khususnya yang beragama Kristen, untuk melaksanakan kegiatan keagamaan seperti perayaan Natal bersama.

“Walaupun SMA Katolik Frateran Santo Gabriel adalah sekolah Katolik, kami sangat mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menjaga keharmonisan dan toleransi antar umat beragama yang dianut oleh seluruh warga sekolah,” kata Yohanes Mau kepada MataKaltara.com, sabtu (13/12/2025).

Lebih lanjut, Yohanes Mau menjelaskan bahwa dalam tradisi Gereja Katolik, perayaan Natal tidak dilakukan sebelum tanggal 25 Desember karena adanya Masa Adven.

Masa Adven merupakan waktu persiapan rohani selama empat minggu untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus, yang menekankan pertobatan, refleksi, dan pendalaman iman, bukan perayaan lebih awal.

“Perayaan Natal dalam Gereja Katolik dimulai secara sungguh-sungguh pada Malam Natal, 24 Desember, dan berlanjut hingga Oktaf Natal atau Pesta Pembaptisan Tuhan. Oleh karena itu, yang terpenting adalah menghormati masa persiapan Adven sebelum puncak perayaan Natal,” jelasnya.

Kegiatan Natal bersama ini menjadi bukti nyata komitmen SMA Katolik Frateran Santo Gabriel Nunukan dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif, rukun, dan saling menghargai perbedaan, sekaligus menanamkan nilai toleransi kepada para siswa – siswi sejak dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *