Nunukan

Revitalisasi Bahasa Tidung di Nunukan: Dari Ruang Kelas Menuju Generasi Penerus

×

Revitalisasi Bahasa Tidung di Nunukan: Dari Ruang Kelas Menuju Generasi Penerus

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Upaya menjaga bahasa daerah agar tetap hidup di tengah perubahan zaman terus dilakukan di Kabupaten Nunukan, Salah satunya melalui program revitalisasi Bahasa Tidung yang diterapkan di SDN 012 Nunukan.

Program tersebut menjadi salah satu titik pemantauan dan evaluasi Balai Bahasa Kalimantan Timur dalam kunjungan pengembangan dan pembinaan revitalisasi bahasa daerah.

Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum untuk melihat sejauh mana pembelajaran Bahasa Tidung berkembang di lingkungan sekolah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 012 Nunukan, Amelia Putri, menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, pendampingan dari Balai Bahasa Kalimantan Timur memberikan dorongan bagi sekolah untuk terus menghidupkan bahasa daerah di kalangan peserta didik.

“Ini bentuk kepedulian terhadap pelestarian bahasa daerah. Setelah kurang lebih dua tahun mendapatkan pelatihan, kunjungan kali ini menjadi evaluasi sekaligus motivasi bagi kami, guru, orang tua dan siswa,” kata Amelia kepada MataKaltara.com, Kamis (13/08/2026).

Ia menjelaskan, pelaksanaan revitalisasi Bahasa Tidung di sekolah telah berjalan selama dua tahun. Pada tahap awal, kegiatan lebih diarahkan pada kemampuan siswa dalam bercerita dan membaca puisi menggunakan Bahasa Tidung, terutama sebagai persiapan mengikuti berbagai perlombaan di tingkat kabupaten.

Memasuki tahun kedua, pembelajaran mulai diperluas. Siswa tidak hanya diajak tampil dalam perlombaan, tetapi mulai dikenalkan dengan buku cerita Bahasa Tidung, drama yang diangkat dari dongeng atau cerita rakyat, pantun, serta berbagai kosakata dasar.

Untuk siswa kelas rendah, pembelajaran diarahkan pada pengenalan nama anggota tubuh, angka, kata benda, kata kerja hingga kata sifat.

Sementara siswa kelas tinggi mulai dilatih merangkai kata menjadi kalimat serta mengenal Bahasa Tidung melalui kegiatan yang dipadukan dengan Bahasa Indonesia dan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat Tri Gatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, serta menguasai bahasa asing.

“Pembelajaran Bahasa Tidung juga mulai kami masukkan dalam muatan lokal dan ekstrakurikuler. Jadi anak-anak tidak hanya mengenalnya ketika ada lomba, tetapi juga dalam kegiatan pembelajaran di sekolah,” jelasnya.

Anak Mulai Berani Mengucapkan

Amelia melihat adanya perubahan pada peserta didik setelah program tersebut berjalan. Rasa ingin tahu terhadap Bahasa Tidung mulai tumbuh.

Sebagian siswa bahkan tertarik mencoba mengucapkan kosakata yang baru mereka dengar karena terdengar unik dan menyenangkan.Namun, upaya tersebut bukan tanpa kendala.

Salah satu persoalan yang dihadapi sekolah adalah keterbatasan bahan ajar, khususnya modul pembelajaran dan buku cerita berbahasa Tidung.Selain itu, sebagian besar siswa tidak berasal dari keluarga penutur asli Bahasa Tidung.

Kondisi lingkungan masyarakat yang dihuni berbagai latar belakang suku juga membuat bahasa yang lebih sering didengar anak-anak di luar sekolah bukan Bahasa Tidung.Kondisi itu mendorong sekolah mencari cara agar pembelajaran tetap menarik dan mudah diterima siswa.

Salah satunya dengan menggunakan metode permainan. Anak-anak diajak melihat benda secara langsung, kemudian mencari dan menuliskan padanan katanya dalam Bahasa Tidung menggunakan kamus.

Pembelajaran juga dilakukan secara berkelompok melalui permainan kartu kata yang kemudian disusun menjadi kalimat.Cerita rakyat pun dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.

Cerita yang cukup panjang dikemas menjadi dialog sederhana untuk kemudian dimainkan siswa dalam bentuk drama Bahasa Tidung.

Sekolah juga terus memberikan ruang kepada siswa untuk mengikuti perlombaan, baik membaca puisi maupun mendongeng. Kegiatan serupa turut dilaksanakan di dalam kelas maupun pada momentum hari-hari besar.

“Yang penting anak-anak merasa bahwa Bahasa Tidung itu menyenangkan. Kami tidak ingin mereka belajar hanya karena tuntutan lomba, tetapi perlahan menjadi bagian dari keseharian mereka,” tuturnya.

Jangan Berhenti di PerlombaanAmelia berharap kunjungan dan pendampingan dari Balai Bahasa Kalimantan Timur tidak berhenti pada kegiatan evaluasi kali ini.

Menurutnya, pendampingan secara berkala sangat diperlukan agar sekolah memiliki arah yang jelas dalam mengembangkan pembelajaran Bahasa Tidung.

Ia juga berharap revitalisasi bahasa daerah nantinya tidak hanya diterapkan di sekolah tertentu, tetapi dapat berkembang menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah di Kabupaten Nunukan.

“Harapan saya bukan hanya sekali datang, tetapi ada pendampingan berkali-kali. Keberhasilan revitalisasi bahasa daerah jangan hanya terlihat saat anak-anak mengikuti lomba. Kami ingin Bahasa Tidung benar-benar digunakan dan dikenal oleh anak-anak,” imbuhnya.

Menurut Amelia, dukungan kebijakan dari pemerintah daerah juga dibutuhkan. Ia berharap Bahasa Tidung memperoleh payung hukum yang semakin kuat sehingga para guru, pembimbing maupun penutur memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan dan mengajarkannya kepada generasi muda.

Ia menilai bahasa daerah merupakan bagian dari kekayaan bangsa yang perlu dijaga bersama.

Karena itu, pelestarian Bahasa Tidung tidak semestinya hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Penutur bahasa dapat mengambil peran dengan membuat taman baca berbahasa Tidung.

Sementara generasi muda dapat memanfaatkan media sosial untuk membuat konten kreatif yang menggunakan Bahasa Tidung agar lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Para pegiat literasi juga diharapkan ikut memperbanyak bahan bacaan, mulai dari cerita fabel, fiksi, nonfiksi hingga kisah pengalaman yang ditulis menggunakan Bahasa Tidung.

Dengan cara tersebut, Bahasa Tidung tidak hanya tersimpan sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap tumbuh, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page