Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Semangat toleransi dan keberagaman kembali ditunjukkan keluarga besar SMA Katolik Frateran Santo Gabriel dan SMP Katolik Frateran Santo Gabriel Kabupaten Nunukan.Kedua lembaga pendidikan tersebut menggelar kegiatan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah di lingkungan SMP Katolik Frateran Santo Gabriel Nunukan, Jumat (28/08/2026) pagi.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Sekolah SMA Katolik Frateran Santo Gabriel Nunukan Frater Anselmus Nong Sareng, Kepala Sekolah SMP Katolik Frateran Santo Gabriel Nunukan Frater Adolfus, serta Ustadz Muhammad Jawahir.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan sekolah Katolik tersebut menjadi gambaran bagaimana pendidikan dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah keberagaman agama, suku, etnis, budaya dan latar belakang peserta didik.
SMA dan SMP Katolik Frateran Santo Gabriel Nunukan selama ini menerapkan pendekatan pendidikan multikultural. Di lingkungan sekolah tersebut, peserta didik dengan latar belakang yang beragam belajar dan berinteraksi dalam satu lingkungan pendidikan.
Termasuk di dalamnya terdapat guru agama Islam dan siswa yang beragama Islam.
Kepala SMP Katolik Frateran Santo Gabriel Nunukan, Frater Adolfus, mengatakan peringatan Maulid Nabi bukan hanya menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang keteladanan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan karakter bagi seluruh peserta didik.
Menurutnya, keberagaman yang ada di lingkungan sekolah harus dirawat melalui sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan.
“Sekolah adalah tempat untuk belajar bersama. Perbedaan agama, suku, budaya dan latar belakang bukan menjadi penghalang bagi kita untuk saling menghargai dan hidup berdampingan,” kata Adolfus kepada MataKaltara.com, Jumat (28/08/2026).
Ia menjelaskan, kehadiran guru dan siswa Muslim di sekolah Katolik menjadi bagian dari keberagaman yang dihargai dan diberikan ruang untuk menjalankan keyakinannya.
Karena itu, kata Adolfus, kegiatan keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi juga dapat menjadi sarana pembelajaran bagi seluruh siswa tentang pentingnya toleransi dan kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk.
“Anak-anak perlu dibiasakan sejak di sekolah untuk menghormati keyakinan orang lain. Dengan begitu, mereka tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang mampu hidup bersama dalam keberagaman,” ujarnya.
Frater Adolfus menambahkan, pendidikan multikultural tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di dalam kelas. Nilai toleransi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Menurutnya, ketika siswa terbiasa melihat dan menghargai perbedaan sejak dini, mereka akan memiliki bekal penting ketika nantinya terjun ke tengah masyarakat.
“Keberagaman ini justru menjadi kekuatan. Kita ingin anak-anak tumbuh dengan kesadaran bahwa Indonesia dibangun dari banyak perbedaan, tetapi tetap bisa hidup dalam persaudaraan,” pungkasnya.
Sementara itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut juga diisi dengan penyampaian pesan keagamaan oleh Ustadz Muhammad Jawahir.
Momentum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu memberikan nilai dan keteladanan kepada para siswa melalui ajaran tentang akhlak, persaudaraan, kedamaian dan sikap saling menghormati.
Bagi keluarga besar Frateran Santo Gabriel Nunukan, peringatan Maulid Nabi di lingkungan sekolah Katolik menjadi salah satu bentuk nyata bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membangun generasi yang mampu menghargai perbedaan.
Di tengah masyarakat Nunukan yang memiliki keberagaman agama, suku, etnis dan budaya, sekolah menjadi salah satu ruang strategis untuk menanamkan nilai toleransi sejak dini.
Semangat tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan multikultural yang mendorong terciptanya lingkungan belajar yang inklusif, setara dan menghargai keberagaman.
Melalui kegiatan tersebut, keluarga besar SMA dan SMP Katolik Frateran Santo Gabriel Nunukan menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi sekat, melainkan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, menghormati dan memperkuat persaudaraan.












