Nunukan

Arpiah Dorong Disabilitas di Nunukan Tak Sekadar Dididik, Tapi Disiapkan Mandiri

×

Arpiah Dorong Disabilitas di Nunukan Tak Sekadar Dididik, Tapi Disiapkan Mandiri

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Nunukan, Arpiah, menegaskan pentingnya membuka ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk tumbuh, mengembangkan keterampilan, dan membangun masa depan secara mandiri.

Hal itu disampaikan Arpiah saat menerima kunjungan silaturahmi siswa dan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Nunukan di Gedung DPRD Nunukan, Selasa (06/10/2026).

Bagi Arpiah, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Lebih dari itu, menjadi kesempatan untuk mendengarkan langsung aspirasi para siswa, memahami kebutuhan mereka, sekaligus melihat potensi yang dapat dikembangkan sebagai bekal menghadapi masa depan.

Ia menilai, setiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Karena itu, lingkungan pendidikan maupun pemerintah perlu memberikan dukungan agar potensi tersebut tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat berkembang menjadi keterampilan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

“Silaturahmi bersama siswa dan guru SLB Kabupaten Nunukan menjadi momentum penuh makna untuk mendengar aspirasi, melihat potensi, serta memahami harapan mereka dalam meraih masa depan yang lebih baik,” kata Arpiah kepada MataKaltara.com, Selasa (06/10/2026).

Menurutnya, salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama adalah memastikan penyandang disabilitas memiliki akses yang memadai terhadap pelatihan dan kesempatan kerja.

Arpiah berpandangan, dunia kerja harus dibangun dengan prinsip kesetaraan. Penyandang disabilitas harus diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan berdasarkan kompetensi yang mereka miliki.

“Setiap anak memiliki kemampuan dan kelebihan masing-masing. Tugas kita bersama adalah memastikan tidak ada yang tertinggal dan setiap potensi mendapatkan ruang untuk tumbuh dan berkarya,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap peran para guru SLB yang selama ini mendampingi dan membekali peserta didik dengan pendidikan serta keterampilan.

Menurut Arpiah, pendidikan bagi penyandang disabilitas seharusnya tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga diarahkan pada pembentukan kemandirian, keterampilan praktis, kepercayaan diri, dan kesiapan menghadapi kehidupan sosial maupun dunia kerja.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Arpiah mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dunia usaha, dunia industri, serta masyarakat.

Sinergi tersebut diperlukan agar tersedia lebih banyak program pelatihan dan ruang praktik yang sesuai dengan kemampuan serta minat penyandang disabilitas.

“Kalau kesempatan dibuka, kemampuan akan terlihat. Karena itu, jangan melihat keterbatasannya, tetapi lihat apa yang bisa mereka lakukan dan kembangkan,” ungkapnya.

Arpiah berharap perhatian terhadap penyandang disabilitas dapat menjadi bagian dari pembangunan daerah yang berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan yang baik adalah pembangunan yang memberikan ruang kepada seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Ia menegaskan, penyandang disabilitas bukan sekadar kelompok yang membutuhkan perhatian, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah apabila diberikan kesempatan dan dukungan yang tepat.

“Membangun ketenagakerjaan yang inklusif berarti membuka kesempatan, menghadirkan kesetaraan, dan menciptakan masa depan yang lebih berkeadilan bagi semua,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page