Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan mengungkapkan sebagian besar kasus malaria yang ditemukan di wilayahnya merupakan kasus impor yang dibawa oleh pendatang, terutama melalui jalur perbatasan Malaysia.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Miskia mengatakan, wilayah Sebatik Timur masih menjadi salah satu daerah yang mencatat adanya kasus malaria. Tahun ini, tercatat sebanyak 13 kasus malaria dan mayoritas berasal dari pendatang.
“Rata-rata pendatang sudah membawa bibit penyakit malaria, terutama mereka yang datang atau dideportasi dari Malaysia sehingga kasusnya masuk ke wilayah kita,” kata Miskia kepada MataKaltara.com, Senin (20/07/2026).
Ia menjelaskan, tingginya mobilitas masyarakat di kawasan perbatasan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi masuknya kasus malaria dari luar wilayah.
Selain malaria, Sebatik Timur juga menjadi wilayah dengan angka kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi di Kabupaten Nunukan.
Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut, Dinkes terus mengingatkan masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan serta aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk.
Menurut Miskia, tindakan fogging tidak dilakukan secara rutin tanpa adanya temuan kasus. Pengasapan hanya dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan surveilans petugas kesehatan di lapangan.
“Kalau tidak ada kasus tidak langsung fogging karena bisa membuat nyamuk menjadi kebal. Petugas akan turun melakukan penyelidikan terlebih dahulu,” ujarnya.
Sementara itu, upaya pencegahan HIV juga terus diperkuat oleh Dinas Kesehatan Nunukan. Kasus HIV saat ini banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 25 hingga 49 tahun.
Edukasi mengenai HIV tidak hanya menyasar pelajar, tetapi juga melibatkan guru dan orang tua. Hal ini dilakukan agar keluarga memiliki peran lebih besar dalam mengawasi pergaulan dan aktivitas anak.
“Kami juga menyampaikan kepada orang tua agar lebih memperhatikan aktivitas anak karena pengawasan keluarga menjadi bagian penting dalam pencegahan HIV,” ungkapnya.
Selain edukasi, Dinkes Nunukan juga menjalankan program Pelayanan Kesehatan Bergerak untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.
Program tersebut menghadirkan dokter spesialis, dokter umum, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya untuk memberikan pelayanan secara gratis.
Miskia menyebut pelayanan bergerak dilakukan beberapa kali dalam setahun menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran dan kebutuhan masyarakat di daerah yang sulit dijangkau.












