Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Peristiwa cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, masih menjadi perhatian.
Setelah melakukan kajian terhadap kondisi atmosfer dan rekaman kejadian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena tersebut bukan angin puting beliung.BMKG menyebut kerusakan yang terjadi akibat hembusan angin kuat yang berasal dari proses downdraft awan Cumulonimbus.
Tim Forecaster Stasiun Meteorologi Kelas III Yuvai Semaring Long Bawan, Reza, menjelaskan awan Cumulonimbus yang berkembang saat kondisi atmosfer tidak stabil dapat menghasilkan aliran udara turun dengan kecepatan tinggi menuju permukaan.
“Ketika terjadi downdraft, angin dari dalam awan turun secara cepat dan menyebar saat mencapai permukaan. Inilah yang menyebabkan munculnya angin kencang bersamaan dengan hujan deras,” kata Reza kepada MataKaltara.com, Jumat (17/07/2026).
Menurutnya, perbedaan utama antara angin kencang akibat downdraft dan puting beliung terletak pada pola pergerakan anginnya.
Puting beliung memiliki karakter berupa pusaran angin yang terlihat berputar, sementara kejadian di Krayan tidak menunjukkan ciri tersebut.
“Dari hasil analisis video dan kondisi cuaca saat kejadian, tidak ditemukan indikasi adanya pusaran angin,” ungkapnya.
Akibat kejadian yang berlangsung kurang dari satu jam itu, sejumlah fasilitas masyarakat mengalami kerusakan. Beberapa rumah warga terdampak, atap bangunan gereja mengalami kerusakan, serta sebuah menara roboh dan menimpa Pos Pengamanan Perbatasan (Pos Pamtas) Long Bawan.
Wilayah yang paling merasakan dampak berada di sekitar Long Bawan, Long Kiwan, dan Kampung Baru. Sementara sebagian wilayah Krayan lainnya hanya mengalami hujan dengan intensitas tinggi.
Sebelum cuaca buruk terjadi, BMKG bersama Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan telah mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem. Informasi tersebut disampaikan melalui sejumlah kanal komunikasi, termasuk jaringan informasi masyarakat di Kecamatan Krayan.
Di sisi lain, laporan awal dari lapangan BPBD Nunukan sempat menyebut kejadian tersebut sebagai hujan deras disertai angin puting beliung dan petir. Namun, setelah dilakukan analisis meteorologi, BMKG meluruskan bahwa fenomena tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai angin kencang akibat aktivitas awan Cumulonimbus.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Warga bersama jemaat dan petugas melakukan penanganan awal dengan membersihkan material bangunan, mengamankan barang-barang yang terdampak, serta memperbaiki bagian bangunan yang mengalami kerusakan.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah perbatasan Krayan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama saat pertumbuhan awan Cumulonimbus yang dapat memicu hujan lebat disertai angin kencang.












