Nunukan

Diguyur Hujan, Debit Air Baku PDAM Nunukan Kembali Aman, Embung Bolong Mulai Terisi Penuh

×

Diguyur Hujan, Debit Air Baku PDAM Nunukan Kembali Aman, Embung Bolong Mulai Terisi Penuh

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Curah hujan yang mengguyur wilayah Nunukan dalam beberapa hari terakhir membawa dampak positif terhadap ketersediaan air baku yang dikelola Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan.

Kondisi embung yang sebelumnya mengalami penurunan akibat musim kemarau kini mulai kembali normal.

Kepala Bagian Teknis PDAM Nunukan, Rusdiansyah, mengatakan kondisi air baku saat ini masih dalam keadaan aman. Bahkan, Embung Bolong yang menjadi salah satu sumber utama air baku PDAM mengalami peningkatan kapasitas hingga melampaui batas tampungan.

“Untuk ketersediaan air baku beberapa bulan terakhir ini memang sudah aman. Embung Bolong sendiri karena sudah sering terkena hujan, kapasitasnya sudah melebihi bahkan sampai meluber. Begitu juga dengan Embung Bilal,” kata Rusdiansyah kepada MataKaltara.com, Rabu (15/07/2026).

Ia menjelaskan, saat ini ketinggian air di Embung Bolong berada sekitar 5,70 meter, sedangkan Embung Bilal berada di kisaran 3,80 meter. Kondisi tersebut jauh lebih baik dibandingkan saat puncak musim kemarau sebelumnya.

“Waktu kemarau kemarin, Embung Bolong sempat turun sekitar 85 sampai 90 sentimeter. Sekarang sudah jauh meningkat,” ujarnya.

Menurut Rusdiansyah, peningkatan debit air baku sangat berpengaruh terhadap pelayanan kepada pelanggan. Sebelumnya, ketika debit air baku mengalami penurunan, PDAM harus melakukan penyesuaian distribusi karena kemampuan produksi ikut terbatas.

“Ketika debit air baku berkurang, pendistribusian juga terbatas menyesuaikan debit yang tersedia. Kemarin debit air baku hanya sekitar 25 sampai 30 liter per detik,” jelasnya.

Saat ini, kebutuhan distribusi air PDAM Nunukan mencapai sekitar 115 liter per detik. Rinciannya, sekitar 90 liter per detik berasal dari wilayah Persemaian dan sekitar 25 liter per detik dari Pasir Putih.

Rusdiansyah menyebut, apabila kembali terjadi kondisi tanpa hujan dalam waktu lama, cadangan air di Embung Bolong diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 15 hingga 20 hari sebelum debitnya mengalami penurunan signifikan.

“Karena andalan debit kita hanya sekitar 25 sampai 30 liter per detik, sementara kebutuhan produksi mencapai lebih dari 100 liter per detik. Jadi kalau tidak ada hujan beberapa hari, penurunannya akan sangat terasa,” tuturnya.

Untuk mengantisipasi ancaman kekeringan saat musim kemarau, PDAM berharap adanya pengerukan sedimentasi di Embung Bolong.

Pasalnya, pendangkalan akibat sedimen membuat daya tampung embung tidak lagi maksimal.

“Harapan kami sedimentasi di Embung Bolong bisa dibuang sehingga daya tampung embung dapat bertambah,” ucapnya.

Ia menyampaikan, pengerukan Embung Bolong belum dapat dilakukan dalam beberapa tahun terakhir karena masih terkendala proses perizinan, terutama terkait akses jalan pengangkutan sedimen yang berada di kawasan hutan lindung.

Berbeda dengan Embung Bilal yang masih rutin dilakukan pengerukan sehingga kapasitas tampungnya relatif terjaga.

Rusdiansyah menjelaskan, berdasarkan informasi dari Balai Wilayah Sungai (BWS), kapasitas normal Embung Bolong mencapai sekitar 450 ribu meter kubik, sementara Embung Bilal sekitar 80 hingga 85 ribu meter kubik.

“BWS merupakan pihak yang memiliki aset embung tersebut, sedangkan kami sebagai operator. Kami terus berkoordinasi terkait pengelolaannya,” ungkapnya.

Meski kondisi air baku saat ini membaik, PDAM Nunukan tetap mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak. Sebab, distribusi air sangat bergantung pada kondisi sumber air baku.

“Kendala kita hampir setiap tahun adalah sumber air baku. Kalau debit air baku berkurang, distribusi juga ikut berkurang, terutama pelanggan yang berada di daerah elevasi tinggi karena tekanan air menjadi kecil,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page