Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Proses seleksi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara tahun 2026 dipastikan berlangsung ketat, objektif, dan transparan.
Pemerintah daerah menjamin tidak ada ruang bagi praktik “titipan” maupun nepotisme dalam tahapan seleksi.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Nunukan, Hasan Basri, menegaskan bahwa seluruh proses telah disusun sesuai mekanisme nasional dan diawasi lintas instansi.
“Sejak Januari kami sudah mengikuti rapat koordinasi di tingkat pusat bersama BPIP. Panitia juga ditetapkan secara resmi, melibatkan unsur TNI, Polri, dinas kesehatan, dinas sosial, hingga purna Paskibraka,” kata Hasan kepada MataKaltara.com, Minggu (19/04/2026).
Tahapan seleksi dimulai dari administrasi pada Februari, dengan membuka kesempatan bagi siswa kelas 10 dari seluruh sekolah di Nunukan.
Meski ada standar tinggi badan minimal, panitia tetap memberikan toleransi agar peluang tetap terbuka luas.
Saat ini, seleksi telah memasuki tahap krusial, yakni tes fisik dan kesehatan, termasuk pengukuran tinggi dan berat badan serta pemeriksaan buta warna.
Selanjutnya, peserta akan menghadapi rangkaian tes lanjutan seperti parade, peraturan baris berbaris (PBB), kesamaptaan, hingga tes kepribadian.
Pemkab Nunukan menargetkan seluruh proses seleksi tingkat kabupaten rampung pada April 2026.
Peserta terbaik nantinya akan mewakili daerah ke tingkat provinsi, bahkan berpeluang melaju ke tingkat nasional.
Menariknya, seluruh 21 kecamatan di Nunukan mendapat kuota peserta, sebagai upaya pemerataan kesempatan bagi generasi muda di wilayah perbatasan.
Namun demikian, kelulusan tetap ditentukan berdasarkan standar teknis yang ketat.
Sepanjang pengelolaan oleh Bakesbangpol, Nunukan telah mencatat prestasi dengan beberapa kali mengirimkan wakil ke tingkat nasional.
Bahkan, salah satu putra daerah pernah bertugas dalam pelaksanaan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Tahun lalu kita mengirim peserta sebagai cadangan. Harapan kita tahun ini bisa kembali menembus tingkat nasional,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, penggunaan sistem Computer Assisted Test (CAT) menjadi jaminan transparansi, karena hasilnya tidak dapat dimanipulasi.
“Tidak ada nepotisme. Semua berjalan sesuai petunjuk teknis dan tidak bisa diintervensi oleh siapa pun,” jelasnya.
Dengan sistem seleksi yang terbuka dan akuntabel ini, masyarakat diharapkan turut mendukung dan mengawal proses, agar peserta yang terpilih benar-benar merupakan putra-putri terbaik Nunukan yang siap mengharumkan nama daerah.












