Hukum

Polres Nunukan dan HMI Ingatkan Pelajar Bahaya Bullying hingga Propaganda Ekstrem di Media Sosial

×

Polres Nunukan dan HMI Ingatkan Pelajar Bahaya Bullying hingga Propaganda Ekstrem di Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi dan hiburan bagi generasi muda, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk penyebaran informasi bohong, perundungan hingga propaganda ekstremisme yang menyasar kalangan pelajar.

Menyikapi ancaman tersebut, Polres Nunukan melalui Satuan Intelijen dan Keamanan (Sat Intelkam) bersinergi dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Nunukan menggelar sosialisasi literasi digital di Aula SMAN 1 Nunukan, Senin (26/10/2026).

Mengusung tema “Bijak Bermedia Sosial, Cerdas Memilah Informasi, Tolak Konten Kekerasan dan Bullying”, kegiatan ini melibatkan sekira 60 siswa-siswi SMAN 1 Nunukan.

Kasat Binmas Polres Nunukan, IPTU Andi Irwan, menekankan pentingnya membangun kesadaran generasi muda terhadap risiko penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab.

Menurutnya, kemajuan teknologi informasi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar pelajar tidak mudah terpengaruh oleh konten negatif yang tersebar di ruang digital.

“Kami ingin para pelajar memahami bahwa tidak semua informasi yang beredar di media sosial merupakan kebenaran. Jangan mudah percaya, apalagi ikut menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya. Saring sebelum sharing,” ujar Andi Irwan.

Ia juga mengingatkan bahwa tindakan perundungan tidak hanya terjadi melalui kontak fisik atau secara langsung di lingkungan sekolah, tetapi dapat berlangsung melalui komentar, unggahan maupun penyebaran konten yang merendahkan orang lain.

“Bullying bukan sekadar persoalan bercanda atau saling mengejek. Ada dampak psikologis yang bisa dialami korban. Karena itu, kami mengajak pelajar untuk tidak menjadi pelaku, tidak membiarkan perundungan terjadi, dan berani melaporkan apabila mengetahui adanya tindakan tersebut,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa memperoleh sejumlah materi dari instansi yang memiliki kompetensi di bidang literasi digital, perlindungan anak, hingga pencegahan paham ekstremisme.

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Nunukan memberikan edukasi mengenai cara mengenali informasi palsu atau hoaks, memeriksa kebenaran informasi, serta membangun kebiasaan menggunakan media sosial secara bijak.

Sementara itu, Densus 88 Antiteror Polri Satgaswil Kalimantan Utara memberikan pemahaman mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme dan terorisme, termasuk pola penyebaran propaganda melalui platform digital.

Para pelajar juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mewaspadai konten maupun ajakan yang mengarah pada pembenaran tindakan kekerasan.

Adapun Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Kabupaten Nunukan menyampaikan edukasi terkait pencegahan perundungan, kekerasan terhadap anak di ruang digital, serta dampak psikologis yang dapat dialami korban.

Andi Irwan menilai edukasi semacam ini penting sebagai bagian dari langkah pencegahan dini terhadap berbagai persoalan sosial yang berpotensi muncul akibat penyalahgunaan teknologi informasi.

“Kami berharap pelajar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan digital dan tanggung jawab moral ketika menggunakan media sosial. Jangan sampai teknologi yang seharusnya memberikan manfaat justru menjadi sarana untuk menyakiti orang lain atau menyebarkan kebencian,” tegasnya.

Kegiatan yang turut melibatkan pihak sekolah dan pengurus HMI Cabang Nunukan tersebut menjadi bentuk kolaborasi antara kepolisian, mahasiswa, pemerintah daerah, dan lingkungan pendidikan dalam membangun kesadaran digital di kalangan generasi muda.

Melalui sosialisasi ini, para pelajar diharapkan semakin mampu membedakan informasi yang benar dan menyesatkan, menolak konten kekerasan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari tindakan perundungan.

Polres Nunukan bersama unsur terkait juga berharap edukasi literasi digital dapat terus diperkuat sebagai upaya membentengi generasi muda dari pengaruh negatif di ruang digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page