Nunukan

46 Tahun Perjalanan Arpiah, Ketika Ilmu, Kepedulian dan Pengabdian Bertemu

×

46 Tahun Perjalanan Arpiah, Ketika Ilmu, Kepedulian dan Pengabdian Bertemu

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Ada perjalanan yang tidak selesai ketika seseorang meninggalkan ruang kelas. Ada ilmu yang tidak cukup disimpan di lembar ijazah. Ada pula pengetahuan yang baru menemukan maknanya ketika dibawa pulang, dipertemukan dengan kehidupan, lalu perlahan diubah menjadi kepedulian.

Perjalanan itu pula yang tergambar dalam 46 tahun kehidupan Ir. Arpiah, S.T., M.I.Kom. Perempuan kelahiran Nunukan, 5 September 1980 ini, memulai langkahnya dari tempat yang sederhana yakni ruang belajar.

Dari sana, perjalanan membawanya menempuh pendidikan teknik sipil di Universitas Hasanuddin Makassar, mengabdi hampir dua dekade di dunia pendidikan. Dia bergerak melalui berbagai organisasi dan kegiatan pemberdayaan, hingga akhirnya berada di ruang kebijakan sebagai Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Nunukan.

Namun, jika perjalanan itu hanya dilihat dari gelar dan jabatan, ada bagian penting yang akan terlewat. Sebab di balik perjalanan tersebut, ada keyakinan bahwa ilmu seharusnya tidak berhenti menjadi pengetahuan pribadi. Ilmu harus menemukan jalannya untuk menyentuh kehidupan.

Arpiah adalah anak pertama dari 7 (tujuh) bersaudara. Ia menamatkan pendidikan di SMAN 1 Nunukan pada 1999 sebelum melanjutkan pendidikan ke Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar.

5 (lima) tahun berada di dunia teknik, hingga menyelesaikan pendidikan pada 2005, memberinya cara berpikir yang kemudian terbawa hingga hari ini. Teknik sipil mengajarkannya bahwa sebuah bangunan tidak dapat berdiri tanpa perencanaan. Setiap bagian harus dihitung, setiap proses membutuhkan ketelitian dan setiap keputusan memiliki konsekuensi.

Barangkali dari sanalah cara Arpiah melihat pembangunan mulai terbentuk. Baginya, pembangunan bukan sekadar tentang apa yang tampak berdiri di atas tanah. Di balik jalan, gedung dan infrastruktur, selalu ada manusia yang akan menggunakan dan merasakan manfaatnya.

Arpiah memperdalam ilmu komunikasi politik melalui pendidikan magister di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Fajar Makassar. Pada 2025, ia juga memperoleh gelar insinyur dari Universitas Hasanuddin.

Teknik membentuk cara berpikirnya tentang pembangunan. Komunikasi politik membantunya membaca manusia, memahami dinamika sosial, membangun komunikasi dan melihat bagaimana sebuah gagasan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan.

“Di titik inilah pendidikan mulai menemukan maknanya yang lebih luas. Bagi saya membangun daerah bukan hanya perkara mendirikan gedung, jalan atau infrastruktur. Pembangunan juga menyangkut manusia yang menjadi bagian di dalamnya,” ucap Arpiah kepada MataKaltara.com, Jumat (11/08/2026).

Kalimat itu seperti menjadi benang merah perjalanan panjangnya. Sebab setelah ilmu diperoleh, pertanyaan berikutnya adalah, untuk apa ilmu itu digunakan?

Jawabannya perlahan ia temukan melalui pengabdian. Hampir 19 tahun Arpiah bersentuhan dengan dunia pendidikan. Di ruang kelas, ia tidak hanya berhadapan dengan buku, kurikulum dan pelajaran. Ia juga melihat anak-anak tumbuh dengan persoalan mereka masing-masing.

Ada persoalan keluarga. Ada dinamika pergaulan. Ada kegelisahan remaja. Ada kebutuhan akan pendampingan. Ada pula tantangan bagaimana menyiapkan generasi muda menghadapi dunia yang bergerak semakin cepat.

Pengalaman itu membuat pengabdiannya berkembang. Ia bahkan dipercaya menjadi Kepala Sekolah Penggerak Angkatan I. Dari dunia pendidikan itulah Arpiah semakin memahami bahwa membentuk manusia membutuhkan lebih dari sekadar proses belajar mengajar.

Kadang yang dibutuhkan seorang anak adalah seseorang yang mau mendengarkan. Kadang seorang remaja hanya membutuhkan ruang untuk bercerita.

Dan terkadang sebuah keluarga membutuhkan pengetahuan agar mampu menjadi tempat pulang yang lebih baik bagi anak-anaknya. Kesadaran itulah yang kemudian membawanya melangkah lebih jauh.

Yayasan Rumah Kita Berkah Sejahtera

Pada 17 Maret 2025, Yayasan Rumah Kita Berkah Sejahtera atau RKBS resmi diluncurkan. Arpiah mengambil peran sebagai pembina.

Yayasan tersebut lahir dari kegelisahan melihat berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda. Tetapi kegelisahan itu tidak berhenti menjadi keluhan.

Ia mencoba mengubahnya menjadi ruang untuk belajar. Ruang untuk berdiskusi. Ruang untuk mendapatkan pendampingan. Ruang untuk mengenal potensi diri.

RKBS kemudian mengembangkan tiga pendekatan utama, yakni edukasi religi, konseling dan kewirausahaan. Konseling melibatkan sarjana psikologi serta guru.

Sementara kewirausahaan diarahkan agar anak muda tidak hanya menjadi pencari pekerjaan, tetapi mulai berani mengenal dunia usaha dan memanfaatkan teknologi digital sebagai peluang.

“Generasi muda tidak cukup hanya diberikan nasihat. Mereka juga membutuhkan ruang belajar, pendampingan, keterampilan dan kesempatan untuk berkembang,” kata Arpiah.

Ada satu hal yang ingin ia tanamkan yakni masa depan anak muda tidak boleh hanya ditentukan oleh keadaan hari ini. Mereka harus diberi kesempatan untuk tumbuh.

Perjalanan pengabdian kemudian membawa Arpiah melihat satu ruang yang lebih dekat lagi yakni keluarga. Sebagai Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga atau BIPEKA DPW PKS Kalimantan Utara, ia turut mengembangkan Rumah Keluarga Indonesia (RKI).

Sebab sebelum seorang anak berhadapan dengan sekolah dan lingkungan sosial, ia terlebih dahulu mengenal rumah. Di sanalah nilai pertama kali diperkenalkan. Di sanalah karakter mulai dibentuk. Dan di sanalah seorang anak belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab dan kehidupan.

Melalui pembinaan keluarga, parenting, sekolah ibu serta ruang dialog, RKI diarahkan untuk membantu orang tua menghadapi tantangan dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Bagi Arpiah, keluarga yang kuat tidak lahir dengan sendirinya. Ia membutuhkan pengetahuan, komunikasi dan kemauan untuk terus belajar.

Gagas Kelas Inspiratif Muslimah

Dari keluarga, perhatiannya kemudian bergerak kepada perempuan. Arpiah juga menggagas Kelas Inspiratif Profesional Muslimah atau KIPRAH. Namanya membawa satu pesan yakni perempuan harus memiliki ruang untuk belajar dan berkembang.

Public speaking, kepemimpinan, manajemen waktu dan komunikasi efektif menjadi bagian dari pembelajaran yang dikembangkan. Perempuan didorong untuk mengenali kemampuan dirinya, membangun kepercayaan diri dan berani mengambil peran lebih luas.

Semangat itu kemudian menemukan ruang dalam Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kabupaten Nunukan.
Di sana, perhatian diarahkan pada peningkatan kapasitas perempuan dalam politik, kepemimpinan dan legislasi.

“Keterlibatan perempuan dalam politik bukan sekadar persoalan memenuhi angka keterwakilan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan perempuan memiliki kapasitas untuk ikut menyusun dan mengawal kebijakan publik,” ujar Arpiah.

Baginya, keterwakilan akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi kapasitas. Perempuan perlu hadir bukan hanya untuk mengisi ruang, tetapi untuk ikut menentukan arah.

Dorong Forum Konselor Remaja

Perhatian terhadap remaja kembali menjadi bagian lain dari perjalanan itu. Arpiah mendorong gagasan pembentukan forum konselor remaja dengan melibatkan sarjana psikologi.
Konsepnya berangkat dari sesuatu yang sederhana yang terkadang remaja lebih mudah bercerita kepada teman sebayanya.

Karena itu, siswa SMA diarahkan mendapatkan pembekalan sebagai konselor sebaya. Mereka menjadi tempat pertama untuk mendengar, sementara sarjana psikologi menjadi pendamping dan rujukan ketika persoalan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Gagasan tersebut juga berkembang menuju psikoedukasi melalui media sosial serta layanan konseling keliling. Di wilayah seperti Nunukan, dengan bentang geografis yang luas dan karakter perbatasan, mendekatkan layanan bukan perkara sederhana.

Tetapi justru karena itulah pendekatan harus terus dicari.
Sebab, kata dia, setiap anak, di mana pun ia tinggal, berhak memiliki seseorang yang bersedia mendengar.

Pengabdian juga menemukan jalannya melalui ekonomi. Arpiah ikut mendorong berdirinya Koperasi Rumah Kita Berkah Sejahtera. Melalui koperasi tersebut, masyarakat didorong membangun kekuatan ekonomi secara bersama.

Dua unit Nunukan Mart kini menjadi bagian dari aktivitas usaha koperasi. Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagikan kepada anggota menjadi salah satu hasil dari aktivitas tersebut.

Di balik angka-angka usaha, ada harapan yang lebih besar yakni keluarga memiliki sumber penghasilan, anak muda berani mencoba dan masyarakat belajar bahwa peluang ekonomi dapat dibangun bersama.

“Melalui pengalaman ini, saya berupaya mendorong anak muda dalam membangun mindset bisnis, sehingga generasi muda bisa lebih banyak menciptakan inovasi dan kreativitas,” ungkap Arpiah.

Baginya, keberanian memulai sering kali lebih penting daripada menunggu semuanya sempurna.

Menuju Ruang Parlemen

Kemudian sampailah perjalanan itu pada satu ruang yang berbeda. Ruang parlemen. Sebagai Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Nunukan, Arpiah kini berada di tempat di mana berbagai persoalan masyarakat dibicarakan dalam kerangka kebijakan.

Di sana, pengalaman panjangnya menemukan bentuk yang berbeda. Ilmu teknik sipil membantunya melihat pembangunan dari sisi perencanaan dan infrastruktur.

Pengalaman hampir dua dekade di dunia pendidikan membuatnya memahami pentingnya sumber daya manusia. Aktivitas bersama perempuan, keluarga dan generasi muda memberinya pengalaman melihat persoalan dari sisi sosial.

Sementara pengalaman organisasi mengajarkannya bahwa perubahan tidak pernah lahir dari kerja seorang diri. Semua itu kini bertemu di meja kebijakan.

Bagi Arpiah, pembangunan harus dilihat sebagai satu kesatuan. Jalan dan bangunan penting. Tetapi manusia yang berjalan di atasnya juga harus dipersiapkan.

Keluarga yang menjadi tempat tumbuh harus diperkuat. Generasi muda harus diberi ruang. Perempuan harus memiliki kesempatan. Dan masyarakat harus mendapatkan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan mereka.

Program Mukena Bersih

Pada 5 September 2026, ketika genap berusia 46 tahun, Arpiah memilih cara yang sederhana untuk menandai pertambahan usianya. Bukan pesta besar.

Ia justru meluncurkan program Mukena Bersih. Lagi-lagi pengabdian untuk masyarakat. Enam masjid di empat kelurahan Kecamatan Nunukan menjadi titik awal program tersebut.

Rencananya, kegiatan akan dilanjutkan setiap bulan dengan lokasi masjid yang berbeda.

“Insyaallah program mukena bersih ini akan rutin kami jalankan tiap bulan dengan titik masjid yang berbeda,” tutur Arpiah yang juga Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Sebuah mukena mungkin terlihat sederhana. Tetapi dari sesuatu yang sederhana itulah sebuah pesan kembali muncul, pengabdian tidak selalu harus dimulai dari perkara besar. Kadang ia bermula dari melihat sesuatu yang dekat, kemudian bertanya, apa yang bisa dilakukan? Dan Arpiah memilih untuk menjawabnya dengan tindakan.

Usia 46 tahun ini, di dalamnya ada masa kanak-kanak di Nunukan. Ada perjalanan menjadi mahasiswa di Makassar. Ada ruang kelas yang menjadi tempat mengabdi.

Ada organisasi yang mempertemukannya dengan banyak orang. Ada keluarga, perempuan dan anak muda yang menjadi bagian dari perhatian. Ada pula ruang politik yang akhirnya membawanya ke parlemen.

Jika seluruh perjalanan itu dirangkai, ada satu garis yang tampak jelas. Arpiah tidak meninggalkan satu dunia untuk memasuki dunia lainnya.

Ia justru membawa pengalaman dari satu ruang ke ruang berikutnya. Dari ruang kelas, ia membawa pendidikan.
Dari teknik sipil, ia membawa cara berpikir tentang pembangunan. Dari komunikasi politik, ia membawa kemampuan membaca dinamika masyarakat.

Dari organisasi, ia membawa pengalaman bekerja bersama. Dari pemberdayaan, ia membawa kepedulian. Dan dari parlemen, ia kini membawa semuanya ke ruang kebijakan.

Mungkin itulah yang membuat perjalanan ini tidak berhenti pada gelar atau jabatan. Sebab pada akhirnya, ilmu akan menjadi lebih berarti ketika ia mampu menyentuh kehidupan.

Kepedulian akan menjadi lebih bermakna ketika ia berubah menjadi tindakan. Dan pengabdian akan menemukan nilainya ketika manfaatnya dapat dirasakan orang lain.

Di usia 46 tahun, Arpiah telah melewati banyak pintu. Namun perjalanan itu belum selesai. Masih ada ruang yang harus diisi, gagasan yang harus diperjuangkan dan pekerjaan yang harus dilanjutkan. Sebab pengabdian tidak mengenal garis akhir. Ia hanya berpindah ruang. Dari kelas ke masyarakat. Dari masyarakat ke organisasi. Dari oganisasi ke parlemen. Dan dari sana, kembali kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page