Nunukan

Usai Studi Tiru ke Buahati, Yayasan Ibnu Sina Nunukan Siapkan Adaptasi Program Pendidikan

×

Usai Studi Tiru ke Buahati, Yayasan Ibnu Sina Nunukan Siapkan Adaptasi Program Pendidikan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Yayasan Ibnu Sina Nunukan tidak hanya dilakukan melalui pembenahan di internal sekolah. Yayasan juga membuka diri untuk belajar dari lembaga pendidikan yang dinilai berhasil membangun sistem, budaya kerja dan kualitas sumber daya manusia. Langkah itu diwujudkan melalui studi komparasi ke Buahati Islamic School (BHIS) Jakarta, Kamis–Jumat, 6–7 Agustus 2026.

Sebanyak 13 peserta yang terdiri dari pembina dan pengurus yayasan, kepala sekolah serta perwakilan guru mengikuti rangkaian kunjungan ke BHIS Office dan sejumlah unit pendidikan, mulai TK, SDIT, SMPIT hingga SMAIT.

Ketua Pembina Yayasan Ibnu Sina Nunukan, Muhammad Nasir, mengatakan dunia pendidikan membutuhkan semangat untuk terus belajar dan melakukan evaluasi.

Menurutnya, lembaga pendidikan tidak boleh merasa cukup dengan capaian yang telah diraih. Perubahan kebutuhan peserta didik dan perkembangan dunia pendidikan menuntut sekolah untuk terus beradaptasi.

“Sekolah yang ingin terus berkembang harus memiliki budaya belajar. Bukan hanya siswa yang belajar, tetapi yayasan, kepala sekolah dan guru juga harus terus meningkatkan kapasitas,” kata Nasir kepada MataKaltara.com, Sabtu (08/08/2026).

Ia menyebut studi komparasi tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana lembaga pendidikan lain membangun sistem yang mendukung peningkatan mutu.

Bagi Nasir, keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya ditentukan oleh proses belajar mengajar di dalam kelas. Ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kualitas guru, kepemimpinan sekolah, budaya kerja, pembinaan karakter hingga tata kelola yayasan.

“Yang kita lihat bukan hanya pembelajarannya. Kita juga melihat bagaimana mereka membina guru, membangun karakter siswa, mengembangkan budaya sekolah, melakukan inovasi dan mengelola yayasan,” ujarnya.

Bukan Sekadar Meniru

Muhammad Nasir menegaskan, studi komparasi bukan berarti Yayasan Ibnu Sina harus menyalin seluruh sistem yang diterapkan Buahati Islamic School.

Justru, kata dia, hal terpenting adalah menemukan praktik baik yang relevan dan kemudian mengadaptasinya sesuai karakteristik sekolah serta kebutuhan masyarakat Nunukan.

“Tidak semuanya harus kita tiru. Yang baik dan sesuai kita adaptasi dengan kondisi Ibnu Sina dan kebutuhan masyarakat Nunukan,” jelasnya.

Ia berharap hasil kunjungan tersebut dapat melahirkan evaluasi dan perbaikan konkret di masing-masing unit pendidikan.Dengan demikian, studi komparasi tidak berhenti pada dokumentasi dan pengalaman perjalanan, tetapi menjadi bagian dari proses perubahan di lingkungan Yayasan Ibnu Sina.

Guru Menjadi Titik Penting

Bendahara Yayasan Ibnu Sina Nunukan sekaligus Ketua Rombongan, M. Rusdi, mengatakan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut adalah bagaimana Buahati membangun sistem pendidikan secara berkelanjutan.

Menurutnya, perkembangan sebuah lembaga pendidikan harus diiringi dengan kemampuan menjaga mutu dan meningkatkan kapasitas SDM.

“Buahati menarik bagi kami karena bukan hanya berkembang dari sisi jumlah sekolah, tetapi juga bagaimana mereka membangun sistem, menjaga mutu, membina SDM dan mengembangkan kemandirian yayasan,” jelasnya.

Karena itu, rombongan tidak hanya datang untuk melihat fasilitas sekolah. Para peserta juga menggali berbagai program dan sistem yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan Yayasan Ibnu Sina.

Membawa Pulang Inspirasi

Kepala SMAIT Ibnu Sina Boarding School Nunukan, Ariffudin, mengatakan kunjungan tersebut memberikan pengalaman sekaligus sudut pandang baru bagi para pendidik.

Ia menilai praktik pembinaan karakter Islami dan inovasi sekolah yang dipelajari selama kunjungan dapat menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan sekolah di Nunukan.

“Kegiatan ini sangat baik untuk membuka cara pandang baru dan belajar praktik baik pembinaan karakter Islami siswa maupun guru serta program inovatif sekolah,” tuturnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu acuan untuk meningkatkan pelayanan pendidikan di SMAIT Ibnu Sina Boarding School Nunukan.

Sementara itu, guru SMPIT Ibnu Sina Nunukan, Fatmawati, mengaku memperoleh banyak wawasan baru selama mengikuti studi komparasi.

Salah satu yang menarik perhatiannya adalah penguatan pembinaan karakter peserta didik.

“Banyak wawasan, pengetahuan dan inspirasi yang kami peroleh, khususnya dari berbagai program yang diterapkan di SMPIT Buahati. Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah penguatan pembinaan karakter peserta didik,” ucapnya.

Kualitas Siswa Dimulai dari Pendidiknya

Kepala SDIT Ibnu Sina Nunukan, Hasmawati, melihat ada satu pesan penting yang perlu dibawa pulang dari kegiatan tersebut, yakni pentingnya meningkatkan kualitas guru.

Menurutnya, guru merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kualitas lulusan.

“Kualitas murid yang ingin kita hasilkan sangat tergantung pada kualitas guru yang mendidiknya. Karena itu, kualitas guru harus selalu dijaga dan ditingkatkan secara terus-menerus sesuai perkembangan dan kebutuhan pendidikan,” tuturnya.

Ia mengatakan guru dituntut tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan pedagogik, tetapi juga mampu menjadi teladan, membangun karakter siswa, kreatif dan memiliki kemauan untuk terus belajar.

Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Yayasan Ibnu Sina untuk memperkuat program pengembangan SDM pendidik.

Dari Jakarta untuk Pendidikan Nunukan

Kepala TKIT Ibnu Sina Nunukan, Suriyani, mengatakan kunjungan tersebut memberikan banyak referensi untuk pengembangan pendidikan anak usia dini.

“Kami mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi baru dalam proses pembelajaran PAUD, termasuk referensi mengenai pengelolaan dan manajemen sekolah serta ide-ide baru yang dapat diadaptasi dan dikembangkan sesuai kondisi dan kebutuhan sekolah,” ungkapnya.

Bagi Yayasan Ibnu Sina, setiap jenjang pendidikan memiliki kebutuhan pengembangan yang berbeda. Karena itu, hasil studi komparasi akan menjadi bahan bagi masing-masing unit untuk menentukan praktik yang paling sesuai.

Muhammad Nasir kembali menekankan bahwa keberhasilan studi komparasi baru dapat terlihat ketika ada perubahan setelah rombongan kembali ke Nunukan.

“Harapannya setelah kembali nanti ada hal-hal konkret yang bisa kita perbaiki dan tingkatkan di setiap unit sekolah,” pungkasnya.

Dengan semangat tersebut, Yayasan Ibnu Sina Nunukan menjadikan studi komparasi bukan sekadar perjalanan untuk melihat sekolah lain, melainkan bagian dari ikhtiar membangun budaya evaluasi, inovasi dan peningkatan mutu secara berkelanjutan.

Dari Jakarta, yayasan membawa pulang bukan hanya pengalaman, tetapi juga gagasan yang diharapkan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata untuk menghadirkan pendidikan yang semakin berkualitas bagi masyarakat Nunukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page