Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Pemerintah Kecamatan Sembakung Atulai melakukan verifikasi dan validasi faktual terhadap 112 data Anak Tidak Sekolah (ATS) yang tersebar di 10 desa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan data sesuai dengan kondisi riil di lapangan sekaligus menjadi dasar penyusunan strategi penanganan agar anak-anak yang tidak bersekolah dapat kembali memperoleh akses pendidikan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan atas arahan Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan dengan melibatkan tim yang turun langsung menemui masyarakat, ketua RT, pemerintah desa, serta pihak sekolah di wilayah Kecamatan Sembakung Atulai.
Perwakilan Pemerintah Kecamatan Sembakung Atulai, Yulius, mengatakan proses verifikasi dan validasi akan berlangsung selama lima hari berturut-turut. Tim tidak hanya mencocokkan identitas anak yang tercatat dalam sistem, tetapi juga menelusuri kondisi dan faktor penyebab mereka tidak mengenyam pendidikan.
“saat ini terdapat sebanyak 112 data Anak Tidak Sekolah yang perlu kami verifikasi di sepuluh desa. Kami tidak sekadar mencatat nama, melainkan memastikan kondisi sebenarnya di lapangan,” kata Yulius kepada MataKaltara.com, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, penelusuran dilakukan untuk mengidentifikasi sejumlah kategori anak tidak sekolah, mulai dari anak yang belum pernah mengenyam pendidikan sama sekali hingga anak yang pernah bersekolah tetapi berhenti sebelum menyelesaikan pendidikannya.
Tim juga menggali berbagai faktor yang menyebabkan anak tidak bersekolah, seperti bekerja, menikah, kendala ekonomi, jarak menuju sekolah, hingga persoalan kesehatan.
Informasi tersebut menjadi bagian penting untuk menentukan bentuk intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
“Ada beberapa kategori yang kami cek, di antaranya anak yang tidak pernah sekolah sama sekali, yang pernah bersekolah namun berhenti di tengah jalan, serta alasan mereka berhenti sekolah, apakah karena bekerja, sudah menikah, kendala ekonomi, jarak, atau alasan kesehatan. Semua data ini akan langsung diverifikasi dan dimasukkan ke dalam aplikasi yang telah disiapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan,” ungkapnya.
Yulius menegaskan, akurasi data menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan penanganan Anak Tidak Sekolah. Data yang valid dapat membantu pemerintah membedakan persoalan yang dihadapi setiap anak sehingga program yang disiapkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Melalui hasil verifikasi tersebut, pemerintah diharapkan dapat memetakan kebutuhan intervensi secara lebih terarah, baik melalui dukungan biaya pendidikan, akses pendidikan kesetaraan bagi anak yang telah putus sekolah, maupun pendampingan khusus bagi anak yang menghadapi hambatan ekonomi, sosial, geografis, atau kesehatan.
Selain itu, keterlibatan pemerintah desa, ketua RT, dan pihak sekolah diharapkan memperkuat koordinasi dalam mengidentifikasi anak-anak yang belum terjangkau layanan pendidikan.
Dengan demikian, penanganan tidak berhenti pada pendataan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui langkah konkret sesuai kewenangan dan program yang tersedia.
Pemerintah Kecamatan Sembakung Atulai berharap kegiatan ini mampu menghasilkan data ATS yang akurat, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai bahan evaluasi serta perencanaan program pendidikan di Kabupaten Nunukan.
“Harapan kami, tidak ada satu pun anak yang terlewatkan dari pendataan ini. Dengan mengetahui kondisi dan kendala yang mereka hadapi, pemerintah dapat menentukan langkah penanganan yang lebih tepat sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk kembali bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak demi masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.












