Pemkab Nunukan

Akses Longsor Krayan Selatan Terputus, Pemkab Nunukan Dorong Pemulihan Jalan Jadi Prioritas Utama

×

Akses Longsor Krayan Selatan Terputus, Pemkab Nunukan Dorong Pemulihan Jalan Jadi Prioritas Utama

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Penanganan bencana tanah longsor di Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, tidak hanya menghadapi persoalan keterbatasan bantuan, tetapi juga tantangan besar memulihkan akses transportasi yang menjadi urat nadi masyarakat.

Ruas jalan Long Bawan–Long Layu yang mengalami kerusakan akibat longsor sejak awal Juli 2026 hingga kini belum dapat dilalui. Kondisi tersebut membuat distribusi kebutuhan pokok, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi warga mengalami gangguan.

Wakil Bupati Nunukan Hermanus, menegaskan pemulihan akses jalan menjadi pekerjaan penting yang harus segera mendapat perhatian bersama.

Menurutnya, bantuan logistik yang dikirim saat masa darurat hanya menjadi solusi sementara selama masyarakat menghadapi kondisi sulit.

“Yang paling utama saat ini adalah bagaimana akses menuju Krayan Selatan dapat segera dipulihkan. Kalau jalan belum normal, berbagai aktivitas masyarakat akan terus terdampak,” kata Hermanus kepada MataKaltara.com, Jumat (24/07/2026).

Akibat terputusnya jalur darat tersebut, sekitar 460 kepala keluarga atau lebih dari 1.400 jiwa di wilayah Long Layu mengalami kesulitan memperoleh pasokan kebutuhan dasar.

Untuk memenuhi kebutuhan warga, Pemerintah Kabupaten Nunukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pengiriman bantuan melalui jalur udara menggunakan pesawat Mission Aviation Fellowship (MAF).

Bantuan dari BNPB yang dikirim secara bertahap mencapai lebih dari empat ton, terdiri dari 400 paket sembako, 100 paket hygiene kit, dan 100 kaleng susu dengan nilai sekitar Rp200 juta.

Tenaga Ahli Kepala BNPB Kolonel (Purn.) Agus Marsanto mengatakan, dukungan tersebut merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat.

“Yang paling penting bukan nilai bantuannya, tetapi bagaimana kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama kondisi darurat berlangsung,” ujarnya.

Namun, proses distribusi bantuan masih bergantung pada kondisi cuaca dan kemampuan angkut pesawat. Setiap penerbangan hanya mampu membawa sekitar 600 kilogram logistik sehingga pengiriman harus dilakukan secara bertahap.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Nunukan Asmar, menyebut kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan bencana di Krayan Selatan.

Menurutnya, pemerintah daerah terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk BMKG, untuk memastikan proses pengiriman bantuan melalui udara tetap berjalan.

“Ketika cuaca tidak memungkinkan, penerbangan bisa terganggu dan berdampak pada distribusi bantuan. Karena itu koordinasi terus dilakukan,” jelasnya.

Pemkab Nunukan juga memastikan kebutuhan warga yang belum terakomodasi oleh bantuan BNPB akan dipenuhi melalui anggaran daerah.Dari total 460 kepala keluarga terdampak, bantuan BNPB mencakup 400 paket sembako.

Kekurangannya akan ditutup melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) yang sedang diproses pemerintah daerah.Hermanus menyampaikan apresiasi atas dukungan BNPB serta berbagai pihak yang ikut membantu penanganan bencana di Krayan Selatan.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, TNI-Polri, dunia usaha, dan masyarakat dapat mempercepat pemulihan kondisi wilayah terdampak.

“Penanganan darurat harus berjalan, tetapi kita juga harus memikirkan solusi jangka panjang agar masyarakat Krayan Selatan memiliki akses yang lebih aman dan tidak kembali terisolasi ketika terjadi bencana,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page