Nunukan

Proposal Sulit dan MTQ Mandek Jadi Keluhan Warga, Wakil Ketua DPRD Nunukan Arpiah Janji Kordinasikan

×

Proposal Sulit dan MTQ Mandek Jadi Keluhan Warga, Wakil Ketua DPRD Nunukan Arpiah Janji Kordinasikan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Persoalan sulitnya penyusunan proposal bantuan sosial serta mandeknya pelaksanaan lomba MTQ menjadi dua keluhan utama warga dalam kegiatan reses Anggota DPRD Nunukan, Arpiah, Daerah Pemilihan I Masa Persidangan II. Reses yang digelar di Aula Hotel Fortune Nunukan, Selasa (17/02/2026), berlangsung interaktif.

Warga dan pengurus organisasi menyampaikan aspirasi secara terbuka, terutama terkait kendala administrasi dalam mengakses bantuan sosial.

Sejumlah perwakilan organisasi mengaku kerap kesulitan menyusun proposal yang sesuai dengan ketentuan, sehingga pengajuan bantuan sering terkendala.

Mereka berharap ada pendampingan teknis agar proses administrasi tidak menjadi hambatan utama.

Menanggapi hal tersebut, Arpiah menegaskan bahwa DPRD siap membantu dalam bentuk arahan dan penyampaian informasi umum terkait mekanisme pengajuan bantuan.

Namun, ia menekankan bahwa DPRD tidak dalam posisi menyusun proposal secara teknis.

“Kami bisa membantu memberikan arahan dan penjelasan mekanisme. Tetapi untuk penyusunan proposal, organisasi harus mulai meningkatkan kapasitas dan kemandiriannya,” kata Arpiah kepada MataKaltara.com, Selasa (17/02/2026).

Ia mendorong agar pengurus organisasi mengikuti pelatihan atau workshop guna memperkuat kemampuan administrasi dan manajemen, sehingga tidak terus bergantung pada pihak lain.

Selain persoalan proposal, warga juga menyoroti tidak pernah digelarnya sejumlah lomba MTQ di Nunukan dalam beberapa waktu terakhir.

Kegiatan keagamaan yang biasanya rutin dilaksanakan itu disebut terhenti karena keterbatasan anggaran.

Menurut Arpiah, pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat berdampak signifikan terhadap sejumlah program daerah, termasuk kegiatan lomba dan pembinaan MTQ.

“Memang ada efisiensi anggaran yang cukup besar. Ini berdampak pada beberapa kegiatan yang sebelumnya rutin dilaksanakan,” jelasnya.

Meski demikian, ia berjanji akan mengoordinasikan persoalan tersebut dengan dinas terkait agar kegiatan yang dinilai penting bagi pembinaan generasi muda dan syiar keagamaan bisa kembali diprioritaskan.

Reses kemudian dilanjutkan dengan kegiatan workshop sebagai bagian dari penguatan kapasitas peserta.

Forum tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk menjawab persoalan administrasi organisasi sekaligus mencari solusi atas keterbatasan anggaran kegiatan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page