Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan terus mendorong penguatan sektor pertanian berbasis potensi lokal. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui sinergi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dalam pengembangan hilirisasi kakao di Pulau Sebatik.
Melalui kolaborasi antara Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Nunukan (DKPP) dan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Nunukan (DKUKMPP), Pemkab menghadirkan pelatihan instalasi dan pengoperasian mesin pengolahan biji kakao di Unit Pengolahan Hasil (UPH) Gapoktan Maspul Jaya, Desa Maspul, Kecamatan Sebatik Tengah.
Kegiatan ini menjadi upaya Pemkab Nunukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kakao yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk biji mentah.
Dengan pengolahan di tingkat lokal, diharapkan nilai ekonomi tidak lagi mengalir ke luar daerah, melainkan dapat dinikmati langsung oleh petani dan pelaku usaha di Sebatik.
Kepala Bidang Infrastruktur Pangan, Sarana dan Prasarana Pertanian DKPP, Sambiyo, menjelaskan bahwa keberadaan UPH Maspul Jaya menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri kakao skala lokal.
“Selama ini sebagian besar kakao kita dijual mentah. Dengan adanya pengolahan, meskipun baru sampai produk setengah jadi seperti bubuk cokelat, nilai jualnya sudah meningkat. Ini langkah awal memperkuat posisi tawar petani,” kata Sambiyo kepada MataKaltara.com, Senin (02/03/2026).
Dalam skema yang dibangun, DKPP berfokus pada penguatan produksi dan penyediaan bahan baku berkualitas melalui Gapoktan.
Sementara itu, DKUKMPP mengambil peran dalam pembinaan pelaku UKM, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran agar produk olahan kakao mampu bersaing di pasar.
“Petani kita dorong fokus pada kualitas bahan baku. Selanjutnya UKM mengembangkan produk turunan siap konsumsi dengan kemasan dan standar pemasaran yang baik. Sinergi ini saling melengkapi,” jelasnya.
Langkah ini juga sejalan dengan arah kebijakan nasional terkait hilirisasi komoditas pertanian yang menekankan pentingnya penguatan rantai nilai dari hulu ke hilir.
Bagi Pemkab Nunukan, pengembangan kakao Sebatik bukan sekadar program sektoral, melainkan bagian dari upaya memperkuat ekonomi kawasan perbatasan.
Saat ini, UPH Gapoktan Maspul Jaya menjadi rumah produksi kakao binaan DKPP yang diharapkan mampu menjadi model pengembangan serupa di wilayah lain.
Jika produksi dan pemasaran berjalan stabil, Pemkab optimistis akan muncul dorongan bagi petani untuk melakukan peremajaan tanaman serta memperluas areal tanam.
“Dengan sinergi OPD dan keterlibatan aktif kelompok tani serta pelaku UKM, kita target Sebatik tidak lagi hanya dikenal sebagai pemasok bahan mentah, tetapi sebagai penghasil produk kakao olahan yang memiliki daya saing dan nilai tambah lebih tinggi,” pungkasnya.












