6 Jam Menembus Lumpur Demi Pasien, Cerita Dokter di Perbatasan Krayan Layani Warga Terpencil

oleh

Penulis:Fidelis | Editor:Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Musim hujan di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) bukan hanya membuat jalan tanah licin dan berlumpur.

Bagi tenaga medis, seperti dr. Evenjelina, dokter umum di Puskesmas Long Bawan, Krayan Induk, itu berarti perjalanan panjang dan melelahkan demi menjangkau pasien di desa terpencil.

“Paling jauh kami pernah layani pasien di Desa Wa’yagung, Krayan Timur. Kalau cuaca kering sekitar empat jam naik motor, tapi kalau becek karena hujan bisa enam jam perjalanan. Tapi tetap harus melayani, karena warga di sana sulit mengakses Puskesmas Long Bawan,” kata dr. Evenjelina kepada MataKaltara.com, Selasa (12/08/2025), siang.

Krayan Induk saat ini memiliki dua dokter umum di Puskesmas Long Bawan, satu dokter gigi non spesialis kontrak Kemenkes RI.

Meski jumlah penduduk tidak sebanyak di kota, jarak dan kondisi medan membuat beban kerja tetap berat.

“Dulu saya sempat sendirian dokter di sini. Sekarang sudah ada rekan, tapi kalau dibandingkan luas wilayah dan jarak antar desa, dokter masih kurang,” ucapnya.

Peralatan medis juga terbatas. Untuk kasus ringan seperti maag, pasien bisa dirawat beberapa hari di Puskesmas Long Bawan atau dirujuk ke Rumah Sakit Pratama (RSP) Krayan Barat yang jaraknya 30 menit dari Puskesmas.

Namun, untuk kasus gawat seperti jantung atau komplikasi kehamilan, pasien harus diterbangkan ke Kota Tarakan atau Kabupaten Malinau.

“Kalau pasien rujukan ke Tarakan atau Malinau itu pakai pesawat ambulance udara, kami hubungi Dinas Kesehatan Nunukan untuk mengkoordinasikan pesawat ambulance MAF dari Tarakan. Tapi kalau sudah lewat jam 14.00 Wita biasanya tidak bisa terbang. Hampir tiap minggu kami di Puskesmas Long Bawan rujuk pasien ke Tarakan tapi pasien Poli bukan IGD. Saya kurang tahu kalau di RSP,” ujarnya.

Lanjut dr Evenjelina,”Jarak Long Bawan-Tarakan itu 50 menit, kurang lebih kalau ke Nunukan. Kalau ke Malinau 25 menit. Keluarga pasien lebih banyak minta dirujuk ke Tarakan atau Malinau dengan alasan ada keluarga mereka di sana,” tambahnya.

Saat ini di dataran tinggi Krayan hanya memiliki satu RSP di Krayan Barat dengan 4 dokter umum.

“Lama perjalanan dari Puskesmas Long Bawan ke RSP sekira 30 menit. Rata-rata yang dirujuk ke RSP adalah pasien sakit maag. Kalau di Puskesmas Krayan Selatan ada juga 1 dokter umum,” imbuhnya.

Meski berat, pelayanan tetap dijalankan, termasuk kunjungan ke wilayah yang sulit akses kesehatan.

“Di Wa’yagung waktu itu kami beri layanan gratis, cek gula darah, tensi, dan pemeriksaan umum. rata-rata belakangan ini pasien mengeluh maag dan masalah lambung akut,” tuturnya.

Bagi dr. Evenjelina, pengabdian di perbatasan tidak hanya soal profesi, tapi juga panggilan kemanusiaan.

“Di sini, jarak dan cuaca tidak boleh jadi alasan. Kalau ada pasien yang butuh, kami harus datang, walaupun harus menembus hujan dan lumpur berjam-jam,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *