Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – “Kalau sudah kaya raya mengambil hasil bumi, jangan sampai membunuh kehidupan masyarakat perlahan.”
Kalimat tajam itu keluar dari mulut Rudi Hartono, Sekretaris Lembaga Adat Tidung Nunukan, saat menyoroti dampak kerusakan lingkungan yang ditinggalkan PT Mandiri Inti Perkasa (MIP) di wilayah adat Palaju, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara
Masyarakat adat Tidung Sembakung menilai PT MIP belum menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki kerusakan tiga sungai utama yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Sungai yang dulunya menjadi tempat menggantungkan hidup memancing, mandi, dan mengairi ladang kini mengalami pendangkalan parah.
“Perusahaan mengaku sudah memperbaiki, tapi saat kami cek ke lokasi, yang kami lihat hanya tiang-tiang di tepi sungai. Tidak ada pekerjaan nyata,” tegas Rudi Hartono, Selasa (07/10/2025).
Desakan Lewat Surat Resmi
Didukung oleh keputusan Bupati Nunukan Nomor 18845/696/VII/2019 yang mengakui wilayah hukum adat Palaju, masyarakat kini melangkah lebih serius.
Mereka telah mengirim surat resmi berisi tuntutan kepada PT MIP, dan persoalan ini pun sudah dibawa ke DPRD Nunukan.
Respons Perusahaan: Klaim Perbaikan dan Investigasi
General Manager PT MIP Nunukan, M. Robert Boro, mengatakan pihaknya telah merespons surat masyarakat dan siap hadir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD.
“Kami terbuka dan ingin menyelesaikan persoalan ini secara baik dan adil,” ujar Robert.
Ia menambahkan, pendangkalan sungai bisa saja dipicu oleh faktor alamiah, bukan hanya aktivitas tambang.
Namun pihaknya menghormati hasil investigasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kaltara dan Gakkum KLHK, yang merekomendasikan pembangunan bandol penahan sedimen sebagai langkah awal.
Jalan Tengah atau Jalan Buntu?
Meski perusahaan menyatakan kesiapannya berdialog, masyarakat adat berharap bukan hanya omong kosong yang diberikan.
Mereka menginginkan tindakan konkret bukan sekadar laporan di atas meja.Bagi masyarakat adat Tidung, sungai bukan sekadar aliran air.
Ia adalah nadi kehidupan, warisan leluhur, dan bagian dari jati diri.
“Ini bukan sekadar tentang lingkungan, ini soal kelangsungan hidup,” tegas Rudi.












