Nunukan

Sesingal dan Lulantatibu Jejak Budaya Perbatasan yang Menyatu dalam Kain Batik Nunukan

×

Sesingal dan Lulantatibu Jejak Budaya Perbatasan yang Menyatu dalam Kain Batik Nunukan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Dari perbatasan Kalimantan Utara, sebuah mahakarya budaya muncul dalam bentuk batik. Batik Lulantatibu, bukan hanya sekadar kain bermotif, tetapi menjadi simbol persatuan, jati diri, dan kebanggaan masyarakat Kabupaten Nunukan.

Karya ini bahkan kini menyatu dalam Sesingal, topi adat Suku Tidung, sebagai lambang kehormatan yang tak lekang oleh zaman.

Motif batik ini dirancang dengan cermat oleh Fatimah, seorang pengrajin batik lokal yang sejak 2019 telah mendedikasikan hidupnya untuk menghidupkan kembali kekayaan budaya di wilayah perbatasan.

Salah satu motif yang paling mencuri perhatian adalah Sesingal, yang kini tidak hanya dikenakan dalam upacara adat, tetapi juga tampil dalam desain batik yang modern dan bernilai seni tinggi.

“Sesingal bukan sekadar topi, melainkan simbol martabat dan kebesaran masyarakat Tidung. Dengan mengaplikasikan motif ini pada batik, kami ingin memperkuat identitas budaya Nunukan,” ujar Fatimah kepada Matakaltara.com, Sabtu (04/10/2025).

Makna di Balik Motif , Harmoni dari Perbatasan

Batik Lulantatibu mengusung filosofi harmoni dalam keberagaman, dengan memadukan elemen dari berbagai suku besar di perbatasan — Dayak Lundayeh, Tenggalan, Tagol, Tidung, hingga Bulungan.

Setiap motif menyimpan pesan bahwa meskipun masyarakat Nunukan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, mereka tetap bersatu dalam membangun daerah.

Selain Sesingal, motif Bunga Raya juga dihadirkan sebagai simbol keindahan dan kemakmuran.

Ornamen ini melengkapi narasi visual batik, menjadikannya tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga kaya akan makna filosofis.

“Letak geografis Nunukan yang diapit dua bukit bersejarah — Lanuka dan Liang Bunyuh — juga tercermin dalam desain Sesingal. Ini memberi keunikan yang tidak dimiliki daerah lain,” tambah Fatimah.

Dari Pelatihan Singkat, Lahir Warisan Panjang

Fatimah mulai merintis usahanya setelah mengikuti pelatihan dari Bank Indonesia pada 2019.

Ia lalu mengembangkan batik tulis dan batik cap, sementara batik printing diproduksi secara terbatas untuk kebutuhan seragam sekolah.

Hingga kini, setidaknya 18 sekolah di Nunukan telah mengenakan batik bermotif lokal hasil karyanya.

Hal ini menjadi bentuk nyata edukasi budaya sejak dini kepada generasi muda.Tak hanya itu, dukungan pemerintah daerah juga menjadi kunci sukses berkembangnya Batik Lulantatibu.

Pemkab Nunukan bahkan telah mewajibkan penggunaan batik ini di seluruh instansi, menjadikannya pakaian resmi dalam berbagai acara kenegaraan.

Lebih dari Sekadar Kain, Ini Identitas Kami

Bagi Fatimah, Batik Lulantatibu bukan hanya warisan budaya, tapi juga alat pemersatu dan penggerak ekonomi kreatif.

Kehadiran motif Sesingal dalam batik kini telah menjelma menjadi ikon budaya yang dipakai masyarakat luas — dari pejabat hingga pelajar.

“Saya berharap batik ini tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga jalan bagi masyarakat untuk maju secara ekonomi. Inilah wajah Nunukan yang ingin kami perkenalkan ke dunia,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page