Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Sepanjang tahun 2025, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, seolah tak pernah lepas dari ancaman bencana. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan menunjukkan, 85 kejadian bencana terjadi dalam kurun Januari hingga Desember 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan jumlah bencana ini menjadi alarm keras bagi wilayah perbatasan tersebut. Kebakaran pemukiman muncul sebagai ancaman paling dominan, menyumbang 26 kejadian atau hampir sepertiga dari total bencana yang tercatat.
Kepala Sub Bidang Penyelamatan BPBD Nunukan, Hasan, menjelaskan bahwa tingginya kasus kebakaran dipicu oleh kepadatan pemukiman serta rendahnya kesadaran keselamatan terhadap instalasi listrik dan penggunaan api di lingkungan rumah.
“Bencana kebakaran rumah masih menjadi tantangan terbesar kami. Dampaknya sangat cepat dan sering kali menghanguskan seluruh bangunan,” kata Hasan kepada MataKaltara.com, selasa (06/01/2026).
Selain kebakaran, banjir dan kejadian membahayakan manusia juga mendominasi dengan masing-masing 17 kejadian.
Curah hujan tinggi, kondisi drainase yang belum optimal, serta aktivitas masyarakat di wilayah rawan menjadi faktor pemicu utama.
Tak hanya itu, BPBD juga mencatat 11 kejadian karhutla yang membakar sekitar 24,5 hektare lahan, disusul 8 kejadian tanah longsor, 4 banjir rob, dan 2 angin kencang.
Meski abrasi dan kekeringan tidak terjadi, ancaman bencana hidrometeorologi tetap membayangi hampir seluruh wilayah Nunukan.
Dampak yang ditimbulkan tak bisa dianggap sepele. Sepanjang 2025, sebanyak 98 unit rumah mengalami kerusakan, dengan 90 unit di antaranya rusak berat.
Ribuan warga pun terdampak banjir, setelah 2.272 rumah terendam dan aktivitas masyarakat lumpuh sementara.Sektor pertanian turut menerima imbas serius.
Sedikitnya 84 petak sawah terendam banjir, memunculkan kekhawatiran akan penurunan hasil panen dan melemahnya ketahanan pangan masyarakat di wilayah perbatasan.
Kerusakan juga meluas ke fasilitas publik. Sekolah, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, hingga jembatan dan ruas jalan terdampak, menghambat akses pendidikan, layanan kesehatan, dan mobilitas warga.
Secara geografis, Kecamatan Nunukan dan Nunukan Selatan menjadi wilayah paling rawan bencana. Namun, Hasan menegaskan bahwa hampir seluruh kecamatan di Nunukan memiliki potensi risiko serupa, mulai dari Sebatik hingga Krayan di wilayah pedalaman.
“Kondisi ini menuntut peningkatan kesiapsiagaan bersama. Mitigasi berbasis wilayah, edukasi kebencanaan, serta kepedulian terhadap lingkungan harus diperkuat,” tegasnya.
BPBD Nunukan pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan bencana, khususnya kebakaran pemukiman, banjir, dan karhutla.
“Bencana tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa diminimalkan jika semua pihak siap dan peduli,” pungkas Hasan.












