Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Banjir yang melanda wilayah Sembakung kini mulai merendam lingkungan SD Negeri 002 Sembakung.
Air yang sebelumnya menggenangi pemukiman warga, kini bergerak menuju kawasan sekolah, memaksa pihak sekolah kembali mengambil langkah darurat.
Kepala SD Negeri 002 Sembakung, Ardiansah, mengatakan pembelajaran tatap muka terpaksa dihentikan sementara dan dialihkan ke sistem daring. Namun, keputusan tersebut bukan tanpa persoalan.
“Sekarang banjirnya sudah menuju ke sekolah. Karena sebagian daerah sudah terendam, mau tidak mau kita arahkan pembelajaran melalui daring,” kata Ardiansah kepada MataKaltara.com, Rabu (25/02/2026).
Menurutnya, pembelajaran daring bukan solusi ideal. Selain keterbatasan jaringan di wilayah perbatasan, sebagian besar siswa tidak memiliki telepon genggam berbasis android.
“Pembelajaran daring sebenarnya tidak maksimal. Ditambah lagi sebagian besar masyarakat atau anak didik kita tidak punya handphone android. Itu salah satu kendala kita. Tapi, yang tidak punya android, kita arahkan siswa itu ke rumah-rumah warga terdekat yang memiliki hape android,” jelasnya.
Padahal sebelumnya sekolah sempat memiliki sekitar 60 unit tablet yang digunakan khusus saat pembelajaran daring ketika banjir datang.
Namun seluruh perangkat tersebut rusak saat banjir besar tahun 2023.
“Waktu itu tab dikumpulkan di atas meja sekolah. Tapi karena mejanya ambruk terendam banjir, semua ikut rusak. Kita sudah usulkan perbaikan atau pengadaan baru, tapi sampai sekarang belum ada,” ungkapnya.
Saat ini, SD 2 Sembakung memiliki 151 siswa dengan enam rombongan belajar (rombel).Kondisi banjir juga tidak hanya berdampak pada satu sekolah.
Ardiansah menyebut banyak sekolah di wilayah Sembakung, baik tingkat SD maupun SMP, mulai terendam.
Sementara itu, di wilayah lain, Rumah Dinas SMP Negeri 1 Lumbis Hulu sempat terendam hingga setinggi jendela. Meski demikian, air dilaporkan mulai surut.
“Alhamdulillah sudah mulai surut di sana. Perkiraan siang ini air baru sampai ke Sembakung. Sebenarnya Tidka hanya SDN 2 Sembakung, namun banyak sekolah lain baik SD maupun SMP juga ikut terdampak banjir,” ucapnya.
Terkait solusi jangka panjang, pihak sekolah sebenarnya pernah mempertimbangkan relokasi ke tempat yang lebih aman dari banjir.
Namun, rencana itu dinilai belum realistis.
“Kita pernah ingin pindahkan sekolah ke tempat aman. Tapi kalau sekolah dipindahkan sementara masyarakatnya tetap di sini, siapa yang mau sekolah? Jadi masyarakatnya dulu harus dipindahkan, baru sekolahnya ikut,” tegasnya.
Di tengah kondisi yang terus berulang hampir setiap tahun, Ardiansah berharap ada solusi konkret dari pemerintah untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah terdampak banjir.
“Ya kita berharap semoga ada solusi,” pungkasnya.












