Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dinilai belum berjalan merata di Kabupaten Nunukan.
Sejumlah sekolah di Desa Binusan hingga kini belum mendapatkan layanan dapur MBG, meski memiliki jumlah peserta didik yang cukup besar.
Kondisi ini mendapat sorotan dari Anggota DPRD Nunukan, Muhammad Mansur. Ia menyebut keterlambatan realisasi MBG di Binusan menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, khususnya para orang tua siswa yang menanti manfaat program nasional tersebut.
Menurut Mansur, Desa Binusan memiliki konsentrasi sekolah yang cukup padat, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, hingga saat ini belum ada dapur MBG yang beroperasi untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa di wilayah tersebut.
“Binusan ini memiliki beberapa SD negeri dan satu SMP. Tapi faktanya, belum satu pun dapur MBG yang melayani sekolah-sekolah di sana,” kata Mansur kepada MataKaltara.com, Minggu (01/02/2026).
Ia mengungkapkan, Binusan sebelumnya sempat masuk sebagai lokasi uji coba MBG di Nunukan. Namun dalam perjalanannya, implementasi program justru belum dirasakan secara nyata oleh peserta didik.
Situasi tersebut, lanjut Mansur, memicu perbandingan di kalangan warga. Sekolah-sekolah di wilayah lain sudah menikmati program MBG, sementara anak-anak di Binusan masih menunggu tanpa kejelasan.
“Wajar jika orang tua mempertanyakan hal ini. Anak-anak di Binusan punya hak yang sama atas pemenuhan gizi,” tegas Mansur.
Tak hanya Binusan, kondisi serupa juga dialami sekolah di wilayah Ujang Patima dan Binusan Induk.
Mansur mengingatkan, ketimpangan layanan berpotensi memicu kecemburuan sosial jika tidak segera ditangani.
Ia menegaskan, pemerataan MBG merupakan bagian dari keadilan akses pendidikan dan kesehatan, terlebih bagi wilayah perbatasan seperti Nunukan yang menjadi perhatian pembangunan nasional.






