Opini Fidelis
Tahun 2025 menjadi momen penting untuk kembali meneguhkan semangat Sumpah Pemuda yang telah berusia hampir satu abad.
Sumpah yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 bukan sekadar tonggak sejarah, tetapi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga persatuan dan berperan aktif membangun bangsa.
Hari ini, tantangan pemuda jauh lebih kompleks. Kita tidak lagi berjuang melawan penjajahan fisik, tetapi menghadapi bentuk “penjajahan baru” seperti rendahnya literasi digital, perpecahan sosial di dunia maya, dan sikap apatis terhadap persoalan bangsa.
Di tengah situasi ini, semangat kolaborasi dan kreativitas menjadi kunci utama untuk tetap relevan dan berdaya saing.
Sebagai bagian dari Pemuda Katolik Kaltara, saya melihat pentingnya membangun ruang-ruang kolaborasi lintas organisasi, lintas iman, dan lintas komunitas.
Pemuda harus menjadi penghubung, bukan pembeda. Kita harus hadir sebagai motor perubahan yang membawa semangat persaudaraan, solidaritas, dan kepedulian sosial.
Tema Hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun 2025, “Pemuda Pemudi Bergerak Indonesia Bersatu,” mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak akan tercapai tanpa persatuan.
Persatuan yang kita maksud bukan sekadar slogan, tetapi kesediaan untuk bekerja bersama, berbagi gagasan, dan menghadirkan solusi atas persoalan di masyarakat.
Kini saatnya semangat Sumpah Pemuda tidak hanya diucapkan setiap tahun, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata mulai dari kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi lokal, hingga inisiatif digital yang memberdayakan masyarakat.
Pemuda Indonesia, khususnya di perbatasan seperti Nunukan, harus menunjukkan bahwa semangat nasionalisme tidak luntur oleh jarak.
Justru dari daerah terpencil, kita bisa menyalakan api perubahan yang memberi inspirasi bagi Indonesia secara keseluruhan.
Mari jadikan Sumpah Pemuda 2025 sebagai momentum untuk bangkit, bersatu, dan tumbuh bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan maju.






