Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Vamelia Ibrahim, melontarkan pesan tegas sekaligus reflektif bagi generasi muda dan kaum perempuan di Bumi Benuanta.
Di tengah maraknya narasi “lelah dan malas” yang kerap dilekatkan kepada generasi Z, Vamelia menegaskan bahwa rasa lelah adalah hal wajar, namun tidak boleh berubah menjadi sikap menyerah.
“Pesan saya untuk Gen Z, kita memang sering merasa lelah, tapi jangan sampai malas. Kita harus membuktikan kapasitas kita,” kata Vamelia kepada MataKaltara.com, Selasa (24/02/2026).
Menurutnya, tantangan terbesar perempuan masa kini bukan semata tekanan sosial atau keterbatasan akses, melainkan keraguan yang muncul dari dalam diri sendiri.
Rasa tidak percaya diri, kata dia, sering menjadi penghambat utama perempuan untuk berkembang dan mengambil peran strategis.
“Jangan pernah meragukan kapasitas diri kita sendiri. Hambatan terbesar itu seringkali bukan dari luar, tapi dari pikiran kita sendiri,” tegasnya.
Sebagai legislator di Komisi IV yang membidangi pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, Vamelia menekankan bahwa perempuan memiliki posisi sentral dalam pembangunan daerah.
Ia menyebut perempuan sebagai madrasah pertama bagi anak-anak, sekaligus pilar ekonomi keluarga.
Menurutnya, kontribusi perempuan tidak selalu harus dalam skala besar. Perubahan bisa dimulai dari lingkup terkecil: rumah tangga, kelompok PKK, hingga komunitas sosial.
“Kita punya ketelitian dalam melihat masalah. Mulailah dari langkah kecil. Dari rumah, dari lingkungan sekitar. Dampaknya bisa sangat besar,” ujarnya.
Vamelia juga mengajak perempuan di Kaltara membangun budaya saling menguatkan.
Ia menilai solidaritas antar perempuan menjadi kunci menghadapi berbagai tantangan pembangunan, mulai dari pendidikan, ekonomi keluarga, hingga pemberdayaan generasi muda.
“Jadilah perempuan yang saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Ketika perempuan saling menjaga, tidak ada tantangan yang tidak bisa kita lalui bersama,” pungkasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan Kaltara bukan hanya soal infrastruktur dan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang membangun mentalitas percaya diri, kolaboratif, dan berdaya terutama di kalangan perempuan dan generasi muda.












