Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Penurunan cadangan air di Embung Sungai Bolong membuat layanan air bersih di Nunukan harus diatur ulang.
Kondisi cuaca kering dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan volume tampungan menyusut jauh dari kondisi normal, sehingga distribusi air kini dilakukan bergiliran melalui sistem zonasi.
Kepala Sub Bagian Administrasi Perumda Tirta Taka Nunukan, Andi Darwis, menjelaskan bahwa ketinggian air embung yang biasanya berada di kisaran 5 meter kini turun drastis hingga di bawah 2 meter.
Penurunan tersebut berdampak langsung pada kemampuan produksi air bersih untuk pelanggan.
“Penurunan ini cukup tajam akibat minimnya curah hujan beberapa waktu terakhir,” kata Andi Darwis kepada MataKaltara.com, Jumat (03/04/2026).
Sebagai langkah antisipasi, Perumda membagi wilayah layanan menjadi dua zona, yaitu kawasan perkotaan dan Nunukan Selatan.
Sistem ini diterapkan agar pasokan tetap bisa menjangkau seluruh pelanggan meskipun kapasitas produksi menurun.
Ia menegaskan, jadwal distribusi tidak berarti air langsung mengalir ke rumah warga.
Proses teknis seperti membuka katup utama, mengisi pipa induk, hingga menstabilkan tekanan jaringan memerlukan waktu beberapa jam.
“Biasanya perlu waktu sekitar lima hingga enam jam sampai aliran benar-benar stabil,” jelasnya.
Selain itu, hambatan teknis seperti udara yang terperangkap di dalam pipa juga kerap memperlambat aliran air ke pelanggan.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus menunggu lebih lama dari jadwal yang ditentukan.
Keluhan sempat muncul dari warga di kawasan perumahan polisi sekitar KPN Jalan Ujang Dewa, Kecamatan Nunukan Selatan.
Perumda menyebut perbedaan ketinggian wilayah menjadi penyebab utama keterlambatan distribusi.
“Air secara alami mengalir ke area yang lebih rendah. Daerah yang lebih tinggi membutuhkan waktu lebih lama untuk terisi. Saat ini alirannya sudah kembali normal sejak malam,” ujarnya.
Di tengah kondisi ini, hujan yang turun beberapa hari terakhir memberi sedikit kelegaan setelah ketinggian air embung meningkat sekitar 38 sentimeter.
Meski demikian, ancaman kekurangan air masih perlu diwaspadai jika musim kemarau berlangsung lebih lama.
Perumda menyatakan telah menyiapkan berbagai langkah jangka panjang, mulai dari rencana pengerukan embung hingga pemanfaatan seluruh sumber air baku yang tersedia di wilayah kepulauan tersebut.
Masyarakat pun diimbau untuk menggunakan air secara hemat dan menampung air secukupnya saat jadwal distribusi berlangsung agar kebutuhan tetap terpenuhi hingga situasi kembali stabil.












