BPS Nunukan Kenaikan Harga Kebutuhan Dasar Dorong Inflasi Awal Tahun 2026

oleh

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN — Tekanan biaya hidup masyarakat Kabupaten Nunukan kian terasa memasuki awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Januari 2026 mencapai 0,81 persen secara bulanan (month to month/m-to-m), yang mencerminkan kenaikan harga pada sejumlah kebutuhan dasar rumah tangga.

Angka tersebut sekaligus menjadi inflasi year to date (y-to-d) di awal tahun, menandakan adanya penyesuaian harga yang langsung berdampak pada pengeluaran masyarakat sejak Januari.

Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien, mengatakan inflasi pada bulan Januari merupakan pola yang lazim terjadi.

Namun, kondisi kali ini perlu menjadi perhatian karena didorong oleh kelompok pengeluaran dengan bobot besar dalam struktur konsumsi rumah tangga.

“Inflasi Januari 2026 dipengaruhi kenaikan harga pada kelompok pengeluaran utama yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari,” kata Iskandar kepada MataKaltara.com, senin (02/02/2026).

Secara tahunan, tekanan inflasi di Nunukan juga masih cukup kuat. BPS mencatat inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,67 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 110,23.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi tertinggi secara tahunan, yakni mencapai 20,69 persen.

Kondisi ini menunjukkan meningkatnya beban biaya tetap rumah tangga, terutama untuk kebutuhan listrik dan tempat tinggal.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 10,76 persen. Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 3,86 persen, seiring meningkatnya biaya jasa dan konsumsi di luar rumah.

“Kenaikan harga pada sektor perumahan dan jasa menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup bersifat rutin dan berkelanjutan,” jelas Iskandar.

Beberapa kelompok pengeluaran lainnya turut mengalami inflasi dengan besaran lebih rendah, di antaranya perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga sebesar 1,01 persen, pendidikan 1,00 persen, kesehatan 0,83 persen, serta transportasi 0,67 persen.

Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 0,38 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,36 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,24 persen.

Di tengah tren kenaikan harga tersebut, hanya kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mencatat deflasi sebesar 0,93 persen.

Penurunan harga di sektor ini dinilai turut menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi.

“Stabilitas harga perlu terus dijaga agar daya beli masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan seperti Nunukan, tetap terpelihara,” pungkas Iskandar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *