Penulis : Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Penerapan sistem kerja Work From Anywhere (WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) mendapat dukungan, namun tetap disertai sejumlah catatan terkait integritas dan kedisiplinan pegawai.
Politisi Partai Gerindra, Djufrie, menegaskan bahwa fleksibilitas kerja tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai tambahan hari libur bagi ASN maupun tenaga non-ASN. Menurutnya, meskipun bekerja dari luar kantor, pegawai tetap harus siap menjalankan tugas dan mudah dihubungi untuk koordinasi.
Ia mengaku menemukan sejumlah kasus di lapangan di mana ada pegawai yang sulit dihubungi saat jam kerja dengan alasan yang dinilai tidak profesional.
“WFA itu artinya harus standby untuk menjalankan pekerjaan yang ada. Jangan sampai WFA pada hari Jumat justru dipakai untuk pergi ke kebun atau malah tidur siang. Karena ada beberapa yang kita telepon, ternyata dia sedang tidur,” ujarnya, kepada MataKaltara.com, Jumat (6/3/2026) sore.
Djufrie menjelaskan, kebijakan WFA juga diharapkan dapat menjadi solusi terhadap fenomena kantor yang sering terlihat kosong pada hari Jumat. Selama ini, menurutnya, banyak pegawai yang datang ke kantor menjelang siang lalu terburu-buru pulang untuk melaksanakan salat Jumat dan sering kali tidak kembali lagi ke kantor.
“Penerapan WFA bukan merupakan keputusan sepihak pemerintah daerah, melainkan bagian dari adaptasi terhadap sistem kerja modern yang telah lebih dulu diterapkan di beberapa daerah seperti DKI Jakarta dan Kalimantan Timur,” jelasnya.
Djufrie berharap kebijakan ini tetap diiringi dengan pengawasan dan komitmen kuat dari para ASN agar tujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja dapat tercapai.












