Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, TARAKAN – Dunia pendidikan di Kalimantan Utara kembali diuji. Dalam agenda reses Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, Syamsuddin Arfah, yang digelar di Rumah Makan Mak Etek, Minggu (15/02/2026), terungkap fakta mengejutkan terkait pemangkasan drastis anggaran beasiswa tahun 2026.
Di hadapan puluhan generasi muda dan ibu rumah tangga, Syamsuddin membeberkan bahwa anggaran beasiswa yang sebelumnya diplot Rp15 miliar kini tersisa hanya Rp5 miliar.
“Dari Rp5 miliar itu, yang sudah terikat kerja sama dengan perguruan tinggi lebih dari Rp3 miliar. Artinya, yang bisa dibagi untuk mahasiswa se-Kaltara tidak sampai Rp2 miliar. Ini sangat memprihatinkan,” kata Syamsuddin Arfah kepada MataKaltara.com, Senin (23/02/2026).
Ia menilai, kebijakan tersebut berpotensi menjadi preseden buruk bagi pembangunan sumber daya manusia di Kaltara.
Terlebih, beasiswa merupakan salah satu instrumen utama membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Pemangkasan ini terjadi imbas turunnya transfer pusat yang berdampak pada APBD Kaltara dari Rp3,6 triliun menjadi Rp2,4 triliun.
Namun demikian, menurut Syamsuddin, sektor pendidikan tidak seharusnya menjadi korban utama penyesuaian fiskal.
Politisi partai keadilan sejahtera (PKS) itu, akan mendorong agar anggaran beasiswa dikembalikan minimal ke angka Rp15 miliar, baik pada APBD murni maupun melalui APBD Perubahan.
“Kalau tidak bisa di murni, kita perjuangkan di perubahan. Administrasinya harus disiapkan sejak sekarang supaya tidak ada alasan teknis saat anggaran tersedia,” ujarnya.
Selain beasiswa, ia juga menyoroti belum tersedianya tunjangan bagi guru SMA negeri dan swasta dalam struktur anggaran tahun berjalan.
“Ini bukan hanya soal angka, ini soal masa depan generasi Kaltara,” pungkasnya.












