Nunukan

Wakil Ketua DPRD Nunukan Gaungkan Kesetaraan Akses Sains dan Teknologi Bagi Anak Perempuan

×

Wakil Ketua DPRD Nunukan Gaungkan Kesetaraan Akses Sains dan Teknologi Bagi Anak Perempuan

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Hari Perempuan dan Anak Perempuan Dalam Sains yang diperingati dunia pada 11 Februari 2026 menjadi momentum bagi DPRD Nunukan untuk memperkuat komitmen terhadap kesetaraan akses pendidikan, khususnya di bidang sains dan teknologi.

Wakil Ketua I DPRD Nunukan, Arpiah, menegaskan bahwa lembaga legislatif terus mendorong kebijakan pendidikan yang inklusif serta memastikan anggaran daerah benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama perempuan.

Menurutnya, meski belum ada regulasi daerah yang secara khusus mengatur penguatan peran anak perempuan di bidang Sains, Teknologi, Engineering, dan Mathematics (STEM), arah kebijakan pendidikan di Nunukan telah mengedepankan prinsip kesetaraan kesempatan.

DPRD Nunukan juga membuka peluang untuk menginisiasi aturan yang lebih spesifik apabila dibutuhkan.

“DPRD berkomitmen mengawal kebijakan pendidikan agar tidak ada diskriminasi gender. Kami juga mendorong agar program literasi sains dan digital semakin diperkuat,” kata Arpiah kepada MataKaltara.com, Jumat (13/02/2026).

Ia menjelaskan, anggaran pendidikan diperuntukkan bagi seluruh peserta didik tanpa membedakan gender.

Namun demikian, DPRD mendorong adanya afirmasi khusus bagi anak perempuan berprestasi di bidang sains dan teknologi agar memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.

Terkait data partisipasi anak perempuan di jurusan IPA atau teknologi, DPRD menjalankan fungsi pengawasan dengan mendorong penyediaan data terpilah berdasarkan gender sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menjelaskan bahwa wilayah perbatasan dan kepulauan seperti Nunukan, tantangan yang dihadapi anak perempuan dalam mengakses pendidikan sains antara lain keterbatasan teknologi, kondisi geografis, serta masih adanya pernikahan dini yang menghambat kelanjutan pendidikan.

Melalui fungsi penganggaran dan pengawasan, DPRD juga terus mendorong pemerataan fasilitas pendidikan, termasuk pembangunan laboratorium, penyediaan perangkat digital, dan peningkatan kualitas tenaga pendidik di wilayah terpencil.

Arpiah menilai stigma bahwa sains adalah dunia laki-laki kini semakin memudar. Bahkan, di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi, jurusan MIPA semakin diminati oleh perempuan, meski beberapa bidang teknik masih didominasi laki-laki.

Ia mengajak anak perempuan di Nunukan untuk tidak ragu mengejar cita-cita di bidang sains dan teknologi.

“Sains dan teknologi terbuka bagi siapa saja yang memiliki rasa ingin tahu dan semangat belajar. Percaya diri dan manfaatkan setiap kesempatan untuk mengakses pendidikan,” tuturnya.

Lanjut Arpiah,” Dalam lima tahun ke depan, kami berharap semakin banyak perempuan Nunukan tampil sebagai peneliti, pendidik, maupun profesional di bidang sains dan teknologi, sekaligus menjadi motor penggerak pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan,” tambah Arpiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page