Penulis: Fidelis | Editor: Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Dari ujung utara Kalimantan, karya batik lokal bertajuk Lulantatibu kini mendunia.
Berangkat dari keresahan akan minimnya perkembangan batik di daerahnya, Fatimah, seorang pengrajin asal Nunukan, berhasil membawa batik khas perbatasan tampil dalam ajang bergengsi, termasuk Fashion Show Carnival Kemerdekaan Malaysia di Johor.
Tak hanya tampil di negeri jiran, batik Lulantatibu juga mulai menembus pasar internasional seperti Tawau, Kota Kinabalu, bahkan hingga Filipina.
Capaian ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, mengingat Lulantatibu lahir dari semangat mempertahankan identitas lokal yang hampir terlupakan.
“Awalnya saya hanya ingin batik ini tetap hidup di kampung halaman. Tidak pernah saya bayangkan bisa sampai ke luar negeri,” ujar Fatimah kepada Matakaltara.com, Sabtu (4/10/2035).
Dari Keterbatasan Menuju Kesempatan
Meski belum menjual dalam skala besar, Fatimah menerima banyak undangan ke berbagai pameran internasional.
Produknya kini tak hanya tersedia di gerai lokal, tapi juga melalui toko daring yang memperluas jangkauan konsumen.Namun perjalanan ini tak selalu mulus.
Pandemi menjadi masa terberat saat permintaan anjlok. Untuk bertahan, Fatimah mulai memproduksi batik printing, meski sempat dikritik karena dianggap meninggalkan nilai tradisional.
Ia menjelaskan bahwa batik printing hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan seragam sekolah.
“Setiap tahun saya membuat batik untuk minimal 18 sekolah. Ini juga jadi cara mengenalkan motif lokal pada generasi muda sejak dini,” jelasnya.
Berdaya Bersama Komunitas
Kini, Fatimah tidak bekerja sendiri. Ia melibatkan 6–7 pekerja tetap dan membuka ruang belajar bagi 6 siswa magang dari SMKN 1 Nunukan.
Usaha ini bukan hanya tentang produksi, tetapi juga tentang pewarisan budaya dan keterampilan kepada generasi penerus.
Harga batik Lulantatibu pun bervariasi, tergantung metode produksinya:
Batik printing: Rp250.000–350.000
Batik cap: Rp350.000–500.000
Batik tulis: Rp500.000–700.000 per lembar
Namun menurut Fatimah, nilai dari batik bukan semata pada angka rupiah.
“Batik bagi kami adalah cerita tentang budaya dan identitas perbatasan. Setiap motif mengandung filosofi dan pesan yang ingin kami sampaikan ke dunia,” pungkasnya.
Dengan semangat, konsistensi, dan inovasi, Batik Lulantatibu kini menjadi wajah budaya Nunukan yang diperhitungkan — dari sudut perbatasan, menuju panggung internasional.












