Penulis:Fidelis | Editor:Castro
MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Delapan puluh (80) tahun Indonesia merdeka, namun di perbatasan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), sebagian anak bangsa masih harus berjibaku hanya untuk bisa duduk di bangku sekolah.
Untuk Kabupaten Nunukan seperti di Sembakung dan Lumbis, deru mesin perahu ketinting masih menjadi saksi perjuangan siswa yang menyeberangi sungai saban pagi demi menimba ilmu.
Sementara di Krayan, setiap musim hujan, anak-anak rela bergelut dengan lumpur agar tidak ketinggalan pelajaran.
Potret ini menggambarkan wajah pendidikan di perbatasan yang masih jauh dari kata ideal, gedung sekolah rapuh, buku perpustakaan terbatas, hingga akses jalan yang sulit ditembus kendaraan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Akhmad, mengakui kondisi tersebut. Menurutnya, perbaikan sarana prasarana menjadi prioritas penting untuk mewujudkan pemerataan pendidikan di wilayah perbatasan.
“Nunukan mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui program Asta Cita bapak Presiden Prabowo Subianto.
Ada delapan SMP dan empat SD yang akan direvitalisasi gedungnya menggunakan APBN. Nanti sekolah yang mengelola langsung,” kata Akhmad kepada MataKaltara.com, Senin (18/08/2025), siang.
Revitalisasi tersebut mencakup sekolah-sekolah di berbagai kecamatan, termasuk Sembakung, Krayan, hingga Tulin Onsoi.
Harapannya, ruang belajar yang lebih layak dapat memberi kenyamanan bagi siswa maupun guru.
Tak hanya mengandalkan APBN, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan lewat APBD juga menyiapkan anggaran tambahan, khususnya untuk pembangunan ruang kelas baru (RKB) dan pendirian sekolah permanen bagi sekolah filial.
“Sekolah filial perlu kita bangunkan gedung baru agar lebih mandiri. Dengan begitu, akses pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil semakin terbuka,” ucap Akhmad.
Aksesibilitas Jadi Tantangan Utama Sementara itu, Bupati Nunukan Irwan Sabri, menegaskan bahwa tantangan utama pendidikan di perbatasan bukan hanya soal gedung sekolah, melainkan juga aksesibilitas.
“Memang daerah kita kepulauan, aksesibilitas belum bisa sepenuhnya terpenuhi. Ke depan, saya ingin agar aksesibilitas pendidikan ini bisa kita maksimalkan. Saat ini kita juga fokus membangun sekolah di daerah terpencil sekaligus mendorong peningkatan mutu pendidikan,” ujar Irwan Sabri.
Irwan menambahkan, Pemkab Nunukan telah menyiapkan skema khusus untuk memastikan anak-anak pelosok tidak tertinggal dalam pendidikan, salah satunya lewat program beasiswa berbasis anggaran desa.
“Beasiswa sudah kita intervensi anggarannya. Kami alokasikan minimal 10 persen dari APBDes. Jadi, tiap desa wajib sekurang-kurangnya menyekolahkan dua anak per tahun melalui dana desa,” tuturnya.
Ia berharap langkah ini mampu memperkuat sumber daya manusia (SDM) di daerah perbatasan.
“Tujuannya supaya SDM di pelosok tidak jauh tertinggal lagi. Kita ingin anak-anak di perbatasan memiliki kesempatan yang sama untuk maju,” tegas Irwan.