Nunukan

Pesawat Pelita Air Jatuh di Krayan Tanpa Black Box, KNKT Andalkan Data Garmin untuk Ungkap Penyebab

×

Pesawat Pelita Air Jatuh di Krayan Tanpa Black Box, KNKT Andalkan Data Garmin untuk Ungkap Penyebab

Sebarkan artikel ini

Penulis: Fidelis | Editor: Castro

MATAKALTARA.COM, NUNUKAN – Investigasi kecelakaan pesawat Pelita Air di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, mulai bergulir. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) turun tangan, meski menghadapi tantangan karena pesawat tersebut tidak dilengkapi black box.

Kondisi ini sempat menimbulkan pertanyaan publik. Namun, KNKT memastikan proses penyelidikan tetap bisa berjalan dengan memanfaatkan perangkat lain yang ada di pesawat.

Investigator KNKT, Voltha Herry, menegaskan bahwa investigasi yang dilakukan bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk pembelajaran demi mencegah insiden serupa di masa mendatang.

“Kami menyampaikan belasungkawa atas kejadian ini. Investigasi KNKT bersifat no blaming, jadi bukan mencari siapa yang salah, tetapi memahami apa yang terjadi agar ke depan bisa dicegah,” kata Voltha Herry kepada MataKaltara.com, Jumat (20/02/2026).

Ia menjelaskan, langkah awal yang dilakukan tim adalah mengumpulkan sebanyak mungkin data sebelum masuk ke tahap analisis.

Menurut Voltha, absennya black box pada pesawat tersebut bukan pelanggaran aturan. Sebab, pesawat dengan berat di bawah 5.700 kilogram memang tidak diwajibkan menggunakan perangkat perekam tersebut.

Meski begitu, pesawat masih memiliki sistem lain yang dinilai cukup membantu, yakni perangkat Garmin.

“Kalau black box biasanya merekam parameter penerbangan dan percakapan di kokpit, Garmin ini bisa memberikan gambaran jalur penerbangan atau flight track,” jelasnya.

Data dari perangkat tersebut diharapkan dapat menjadi petunjuk awal untuk merekonstruksi kronologi penerbangan sebelum kecelakaan terjadi.

Namun, KNKT masih belum bisa memastikan apakah perangkat itu masih dalam kondisi baik.

“Kami belum tahu apakah Garmin-nya masih bisa diambil datanya atau ikut rusak, karena tim juga belum masuk ke lokasi,” tambahnya.

Hingga saat ini, lokasi kejadian masih dalam proses pengamanan oleh aparat, sehingga investigator belum dapat melakukan pemeriksaan langsung di lapangan.

KNKT sendiri menargetkan segera menuju lokasi setelah proses sterilisasi selesai dan koordinasi dengan pihak operator rampung.

“Kami akan berangkat secepatnya begitu kondisi memungkinkan,” ujarnya.

Karena belum turun langsung ke lokasi, data yang dimiliki KNKT saat ini masih sangat terbatas dan baru bersumber dari laporan awal operator serta informasi dari pihak keamanan.

Sesuai prosedur investigasi, KNKT akan merilis laporan pendahuluan dalam waktu sekitar satu bulan.

Laporan tersebut akan memuat fakta awal terkait kejadian. Sementara itu, laporan akhir yang berisi analisis lengkap dan rekomendasi keselamatan biasanya diterbitkan dalam kurun waktu hingga satu tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page